Again :p, cuplikan dari Marian Keyes’s Last Chance Saloon, GPU, 2006
Halaman 23-24

Setelah makanan datang—setiap piring lebih rumit dari piring sebelumnya—pembicaraan berkisar pada hal-hal yang berkaitan dengan usia. Bagaimanapun, hari itu adalah ulang tahun seseorang.

“Apa pun kata orang,” tegas Katherine, “bukan kerutan yang membuatku tertekan. Tapi kenyataan sepuluh tahun terakhir seluruh wajahku telah—”

“Melorot,” sambung Tara dan Liv serempak. Mereka telah memainkan permainan ini berkali-kali sebelumnya.

“Aku tahu sekali yang kau maksud.” Dengan kecepatan pelari estafet, Tara nimbrung dalam tema pembicaraan itu. “Jika kau lihat foto dipasporku yang diambil sembilan tahun yang lalu, mulutku ada di atas disekitar dahiku, tapi sekarang mataku betul-betul melorot dan jatuh ke daguku—Dagu yang mana? Aku tahu apa yang kau pikirkan—dan pelipisku telah melorot hampir sampai pinggangku.”

“Sungguh beruntung ada bedah plastik,” kata Liv penuh semangat.

“Entahlah,” kata Fintan serius. “Menurutku sungguh indah bisa menjadi tua dengan anggun, membiarkan alam berfungsi sebagaimana mestinya. Wajah yang menua punya banyak karakter.”

Ketiga perempuan itu menatapnya dengan masam. Jelas dia tidak bisa membayangkan seperti apa jika wajahnya betul-betul tidak seperti sekarang. Tapi apa yang bisa mereka harapkan. Meskipun gay, ia tetap laki-laki. Terberkati dengan kolagen yang tinggi, ia pikir ia Dorian Gray. Tapi coba tunggu sepuluh tahun lagi kemudian dengarkan dengarkan omong kosongnya tentang tumbuh menjadi tua dengan anggun. Dia akan memohon-mohon untuk dibedah plastik, begitu pikir mereka dengan puas.

^ ^