Apakah pernikahan harus selalu dirayakan dengan sebuah pesta besar-besaran yang mengundang (minimal)ribuan orang?
Belum lagi kalo ngomongin berbagai aksesoris yang menyertainya. Dari baju pengantin berharga luar biasa yang dijamin cuma dipakai sekali seumur hidup, paket pre-wedding, honey moon trip, dan seterusnya dan seterusnya.

Kalau mau ngomongin tentang budaya dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat, pasti jawabannya, ‘Sudah tradisi’ atau ‘Malu kalau nggak ada resepsi’ atau yang lain lagi, ‘Nanti apa kata orang’ dan seterusnya dan seterusnya..

Sedangkan kalau mau ngomongin perilaku licik & nggak pantes, sekarang malah some people DID celebrate a wed in getting benefit, profit. What else? To get money. Sengaja biar untung dari uang sumbangan. Yaiks!

Coba deh balik ke awal. Konsep awal dari sebuah ‘resepsi’ pernikahan itu apa sih?
Syukuran (walimah). Sebagai tanda kita bersyukur atas berkah yang diberikan. Atas terjadinya pernikahan ini. Sebagai ajang berkumpul dengan orang-orang terdekat yang kita sayangi, hormati. Sebagai pemberitahuan kepada para tetangga usil biar mereka tahu sekarang kedua orang ini sudah halal. Malam minggu mau ngapel sampai pagi juga sah.

Lebih basic lagi, esensi terpentingnya adalah akad nikah kan. Ijab kabul. Saat dimana janji diucapkan didepan Tuhan. Saat yang paling sakral. Saat dimana harusnya semua orang datang pada saat ini, bukannya justru masih sibuk di salon biar keliatan astonish di resepsi nanti.

Apa sih pentingnya resepsi? Cuma ketemu manusia juga.

Tapi di akad nikah, kita bisa bertemu Tuhan.
Mereka bilang, pada acara akad nikah, malaikat turun ke bumi. Ikut menyaksikannya. Ikut menjadi saksi peristiwa penting ini. Sehingga dikatakan, akad nikah adalah salah satu waktu dimana doa menjadi muktajab. Langsung didengar olehNya. Dan dikabulkanNya.
Sehingga setelah ijab kabul selesai, pasti ada doa bersama untuk mendoakan sang pengantin. Dipimpin penghulu atau orang lain yang ditunjuk.

Doanya akan didengarkan. Akan diamini oleh semua yang hadir. Manusia dan malaikat. Bersama-sama meng-amini doa untuk sang pengantin.

Untuk hidup mereka setelahnya. Untuk dipermudah jalannya. Untuk selalu bermanfaat. Untuk berada di bawah lindunganNya.

Untuk kedua pengantin. Untuk ibu dan ayah mereka. Untuk seluruh umatNya.

Semoga selalu diberkahi Allah SWT, Amien..

____________________________________________________________________

Dedicated to my lovely one & only sister, who’s getting married next month.
“You go, girl! Cepat punya anak ya, aku dah ga sabar ni pengen menimang ponakan haha ;)”

PS: Hes, jadi kesimpulannya ga da resepsi?
Hwhat?! Gila apa? Apa nanti kata orang….

^ ^