Saat-saat Sakral
Life June 16th, 2006Apakah pernikahan harus selalu dirayakan dengan sebuah pesta besar-besaran yang mengundang (minimal)ribuan orang?
Belum lagi kalo ngomongin berbagai aksesoris yang menyertainya. Dari baju pengantin berharga luar biasa yang dijamin cuma dipakai sekali seumur hidup, paket pre-wedding, honey moon trip, dan seterusnya dan seterusnya.
Kalau mau ngomongin tentang budaya dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat, pasti jawabannya, ‘Sudah tradisi’ atau ‘Malu kalau nggak ada resepsi’ atau yang lain lagi, ‘Nanti apa kata orang’ dan seterusnya dan seterusnya..
Sedangkan kalau mau ngomongin perilaku licik & nggak pantes, sekarang malah some people DID celebrate a wed in getting benefit, profit. What else? To get money. Sengaja biar untung dari uang sumbangan. Yaiks!
Coba deh balik ke awal. Konsep awal dari sebuah ‘resepsi’ pernikahan itu apa sih?
Syukuran (walimah). Sebagai tanda kita bersyukur atas berkah yang diberikan. Atas terjadinya pernikahan ini. Sebagai ajang berkumpul dengan orang-orang terdekat yang kita sayangi, hormati. Sebagai pemberitahuan kepada para tetangga usil biar mereka tahu sekarang kedua orang ini sudah halal. Malam minggu mau ngapel sampai pagi juga sah.
Lebih basic lagi, esensi terpentingnya adalah akad nikah kan. Ijab kabul. Saat dimana janji diucapkan didepan Tuhan. Saat yang paling sakral. Saat dimana harusnya semua orang datang pada saat ini, bukannya justru masih sibuk di salon biar keliatan astonish di resepsi nanti.
Apa sih pentingnya resepsi? Cuma ketemu manusia juga.
Tapi di akad nikah, kita bisa bertemu Tuhan.
Mereka bilang, pada acara akad nikah, malaikat turun ke bumi. Ikut menyaksikannya. Ikut menjadi saksi peristiwa penting ini. Sehingga dikatakan, akad nikah adalah salah satu waktu dimana doa menjadi muktajab. Langsung didengar olehNya. Dan dikabulkanNya.
Sehingga setelah ijab kabul selesai, pasti ada doa bersama untuk mendoakan sang pengantin. Dipimpin penghulu atau orang lain yang ditunjuk.
Doanya akan didengarkan. Akan diamini oleh semua yang hadir. Manusia dan malaikat. Bersama-sama meng-amini doa untuk sang pengantin.
Untuk hidup mereka setelahnya. Untuk dipermudah jalannya. Untuk selalu bermanfaat. Untuk berada di bawah lindunganNya.
Untuk kedua pengantin. Untuk ibu dan ayah mereka. Untuk seluruh umatNya.
Semoga selalu diberkahi Allah SWT, Amien..
____________________________________________________________________
Dedicated to my lovely one & only sister, who’s getting married next month.
“You go, girl! Cepat punya anak ya, aku dah ga sabar ni pengen menimang ponakan haha ;)”
PS: Hes, jadi kesimpulannya ga da resepsi?
Hwhat?! Gila apa? Apa nanti kata orang….
^ ^
June 16th, 2006 at 9:49 pm
eh hes klo ak nikah pengenne yg dtg cuma keluargaku, keluarga istri ama kita2 aja. Di tepi pantai pas sore2 abis itu tinggal pesta all night long hehehe. Lah klo pesta gede2an adanya cape bukannya seneng. Lagian biasanya ngga kenal ama tamunya huehehehe jgn2 tamu tak diundang.
June 17th, 2006 at 11:46 pm
kayaknya keinginan egi bs twujud klo nikahnya di jrmn
kata guru lesku, org yg diundang buat pesta nikahan tuh maks 20 orang. selebihnya itu udah diatas ambang normal.
dl aja aku nikahan cuma di rumah. ngundhuh mantu jg cuma di rumah. yg ada kayakny ada pihak2 yg kurang puas. mrk jd mandang, aku dan suami blm pantes nikah, krn blm ada modal cukup utk pesta resepsi di gedung
hayyah…. ampe pada segitunya yak..
June 18th, 2006 at 3:54 am
jd pengen ikutan komen, boleh ya
Dulu waktu kami nikahan juga maunya tidak pakai resepsi-resepsi-an, tapi makin lama kami lihat ada hal lain yang perlu dipikirkan selain ego kami (utk mengadakan pernikahan sesederhana mungkin)..
Yaitu perasaan orang tua kami yang ingin liat anak-anaknya dalam pernikahan yang pantas (tentu menurut mereka)..
Yah kami tidak sampai hati membuat mereka gundah, jadi kami ikhlaskan untuk membuat resepsi yang lumayan dengan biaya yang lumayan.. (yang sebenarnya menurut kami mendingan buat modal beli perabot dan rumah :p)
Kami pikir dan niatkan hal itu sebagai bakti kami kepada orang tua, karena pada awal dan akhirnya doa restu mereka yang kami harapkan
Dan ternyata kami tidak perlu khawatir tentang perabot dan rumah, karena ternyata rejeki memang sudah ada yang mengatur, dan pastinya karena doa restu orang tua..
Namun demikian niatan membuat nikahan sederhana tetap ada, mudah-mudahan anak-anak kami nanti bisa mewujudkannya: pernikahan sederhana yang penuh makna.
Adat dan budaya memang kadang tidak bisa diubah dalam satu malam, harus ada yang menjembatani..
We keep our dream and we will pass it on to the future generation. Hopefully a better generation
June 18th, 2006 at 9:51 pm
saya setuju dengan mas Suryo…
Kita hidup bermasyarakat dan berkeluarga,jadi wajar bila kita kadang harus menekan keinginan kita demi menghormati harapan orangtua, keluarga, dan nilai2 yang berlaku di masyarakat. Juga perlu diingat bahwa married bukan cuma menyatukan 2 orang tetapi menyatukan 2 keluarga besar (keluarga besar suami dan keluarga besar istri), jadi kita juga mesti menyesuaikan nilai2 yang berkembang di 2 keluarga besar itu.
June 20th, 2006 at 8:36 pm
ya bagus hesti, dan nikah itu memang hal yg sakral! tapi banyak yg memfaatkan untuk bisnis he he…. sehingga sakralnya jadi hilang dan menjadi kebiasaan yg menguntungkan he he he…… ya gak apa apa! kalau bisa ya nikah saja ber ulang2 he he he…..enak kan???!!!!!
sampai jumpa
Ibnu
June 22nd, 2006 at 12:29 am
ikutan ah….
menurut pengalamanku…ups salah…belom dink…:p
mang udah dari sononya, kalo yg nikah kita, tp kayaknya yg punya acara ortu kita, udah tamu2nya kebanyakan teman2 ortu, bahkan mungkin harinya pun yg milih ortu..tp selama itu buat mereka bahagia, ikut arus aja, asal tidak berlebihan dan aneh2..
BTW, kasih jarak lo Hez ma Bapak Ibu mu buat santai2 dulu abis Mbakmu nikah…jangan langsung masukin proposalmu…haha
June 25th, 2006 at 2:25 am
Wah komentarnya keren2 ya ^ ^, thx guys.
Iya, we do live in a society. Jadi apapun, pasti semuanya tetep terkait dengan orang lain ya..
RiNda:
Btw, pengennya malah bareng aja, jadi repot & capeknya sekali hehe..
haha Rinda bisa aja. Ga kebalik niii
SuryoSucipto & Andrias:
Wah, kakak-kakak kelas memunculkan diri!! Salam hormat saya, suhu..(sambil membungkuk)
IBNU:
Whahaha, betul pak! ^ ^
taschan:
Keren dunk pernikahanmu Taschan :). Tidak ada jaelangkung si tamu tak diundang spt kata rigel hehe
rigel:
Pantai mana dulu Gel. Di Lombok apa Srandil. Pokil perlu diajak dunk biar ada mas strippernya hehe