I would. I did, actually. Stupid me :(. But, it happened a long long time ago. Time when Dinosaurs still alive and none of Friendster neither internet were found. ^ ^

Ceritanya, suatu hari gw dipaksa menemani seorang tante –yang harus kurahasiakan namanya demi kelangsungan hidupku– ;), pergi ke dokter yang ahli akupuntur di rumah sakit B di Jogja. Buat apa lagi? Melangsingkan diri, jelas.

Tujuan utamanya kan si tante. Tapi dokternya malah lebih napsu melihat gw. ‘Nah, mbaknya ini yang perlu banget..’
Halah, apaan sih. Gw kan sebenernya cuma nemenin, kok malah kepradah?? Huhu.. :(
Akhirnya gw terbujuk atau tertekan ga jelas juga :D, untuk ikut treatment itu. Kita sudah dengan percaya diri mendaftarkan diri ikut beberapa sesi tanpa tahu apa yang menanti di masa depan..

Saat yang tidak dinantikan itu pun akhirnya datang. Jadwal gw lebih duluan daripada si tante. Dengan lugu gw berangkat memenuhi janji dengan dokter C tersebut, yang setelah kulihat ke-tega-annya, keahlian menyiksa dan darah dinginnya gw yakin sebenarnya adalah penjelmaan langsung dari Lucifer himself! Hehe :p.

Beginilah ritual pengorbanan manusia itu dimulai:
Pertama seorang suster yang merupakan antek si Lucifer memasang jarum-jarum di sekujur tubuh gw. Jumlahnya berapa entah ya. Orang ketakutan+kesakitan+panik mana punya waktu luang untuk mikirin hal yang ga penting kaya menghitung jumlah jarum.

Oh ya, jangan salah. Ditusukin jarum gini juga udah pegel, tapi ternyata itu belum seberapa. Masih banyak stage yang harus dilewati begitu lo masuk sarang Lucifer..

Langkah kedua, masih oleh anteknya, jarum-jarum tersebut dijepit pakai apa-itu-ntah-apa-namanya-pokoknya-capit-yang-buat-ngalirin-listrik. Trus dia menyalakan alatnya.


WHUA!!!!
Disetrum, asli. Sebenar-benarnya dialiri listrik.

Yang lebih mengerikan adalah, Mrs Lucifer dengan darah dingin selalu ngomong: tahan ya.. sambil menaikkan arus listriknya. Setiap beberapa menit dia kembali, trus naikin lagi sambil masih ngomong: tahan ya.., tidak peduli betapapun gw meringis pedih ato ngomong: Aduh!! Cukup dok. Udah pegel banget!!

O MY GOD. Dia udah pernah ngerasain dikursi listrik kaya gini belum sih? Seenaknya banget memperlakukan orang. Dan sedihnya, yes, I’m the one who ask her to do this. I even pay her to do her job. Which is, torturing me..

Empat puluh lima menit disetrum..

Besoknya, aku dengan bahagia baca sms yang dikirim tante as she do this f-a-n-c-y ritual just like I did before. “Hesti!!! Ya ampun sakit banget sih. Huhu :( what have I done to us? Kamu kemarin kok bisa sih, tahan banget..”

Tahan banget?! Ya ampun plis deh. Hukuman ala penjara Guantanamo itu justru benar-benar tak tertahankan banget!! You put me into this tante, now you have to feel it too ;) kekekek :D.

As I said before, it happened a long long time ago. Jadi gw sebenernya udah lupa kejadiannya. Tante yang menjerumuskan gw juga sudah gw maafin sejak lama (yang sekarang belum kumaafkan adalah suguhan komik ‘Aku Jadi Ayah’-mu Te! hihihi :D).

Tapi memang aneh, sampai sekarang gw merasa merinding, nggak suka, mual, dan segala macam stress simptons lain kalo harus ke rumah sakit B didepan Gal eh ga boleh menyebutkan nama deng ya :p. Karena kemarin gw habis ngobrol tentang akupuntur sama seseorang yang mo menyerahkan diri untuk disiksa juga, mendadak memori menyakitkan itu muncul lagi ke permukaan. Ya ampun, dulu kan gw pernah merasa tersiksa banget waktu ikut sesi-sesi workshop ‘One hour with Lucifer a day: Makes your happiness away’ itu! Pantesan gw trauma banget sama rumah sakit itu?!

Hahaha ^ ^