Kalau kita kehilangan orang tua, pasti sakit/sedih banget rasanya. Macem-macem emosi yang datang. Sedih, kangen, menyesal, menyesal, dan menyesal. Mungkin gitu generalnya. Paling terasa mungkin adalah rasa menyesal, karena merasa berdosa, merasa belum cukup membanggakan, membahagiakan orang tua, dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi, semua orang akhirnya akan mengalami itu (kecuali yang nggak punya kesempatan). Karena, itulah siklus kehidupan. Sesuatu yang pasti akan terjadi. Tidak bisa dilawan, walau dengan apapun.

Sekarang, bagaimana kalau, sebaliknya. Orang tua, yang kehilangan anaknya. Aku nggak tahu, nggak berani membayangkan. Tapi pasti rasanya sakit tak terhingga. Mungkin.

Mana ada sih, orang tua yang mengira sang anak akan mendahuluinya menghadap Sang Pencipta. Seharusnya aku yang dipanggil dulu, bukan anakku. Mungkin begitu pinta mereka.

Bagaimana tidak, buah hati yang susah payah didapat, diasuh dengan penuh kasih sayang. Segala daya & usaha orang tua pasti tercurah untuk anak mereka. Mereka lah semangat hidup orang tua. Semua tawa, canda, bahagia, bangga, harapan yang dimiliki orang tua, bersumber dari anak.

Buah hatinya gitu loh. Darah dagingnya sendiri.

Kakakku pernah sakit kinda serious. Walau Alhamdulillah saat ini sudah sembuh, sehat wal afiat, ditandai dengan seringnya ejekan yang terlontar antar kami berdua :). Tapi saat itu, membayangkan kalau sampai aku kehilangannya, stressku benar-benar sampai titik yang teramat jauh, melewati semua yang selama ini pernah aku tahu. Takut, khawatir, sekaligus tak berdaya dan berusaha ikhlas pada satu saat.

Apalagi kedua orang tuaku. Entah bagaimana kecamuk perasaan mereka saat itu. Aku yang selalu melihat sosok hero ;) pada ayahku, untuk pertama kali melihat betapa rapuhnya Beliau. Ternyata, hero juga manusia gitu loh :)
Bulan lalu, putri bapak kos meninggal. Kembali kulihat sorot mata rapuh itu. Tatapan sedih tapi berusaha tegar. Rindu yang amat sangat bercampur rasa ikhlas.
Mungkin, beliau masih ingin memeluk mbak Nena setiap hari, setiap saat.
Ingin melihat mbak Nena wisuda.
Menikah.
Melahirkan.
Punya cucu dari anak perempuan satu-satunya.

Buat semua orang tua yang kehilangan anak:
Mereka bilang, anak itu titipan Tuhan, bukan milik orang tua ;). Bagaimana kalau berpikir begini, anak itu titipan dari Tuhan. Dan sekarang ia sudah dipanggil kembali. Pasti untuk keadaan yang lebih baik. Sekarang Tuhan yang merawat anak kita ;). Justru mungkin dia jauh lebih baik dibanding ketika masih bersama kita. Nggak perlu khawatir atau takut, dia ada ditangan yang tepat! ;)
Mbak Nena, gimaana lebih Ok ya disana, nggak ada tsunami atau gempa kaya disini kan ;)