Police Station
Uncategorized 6 Comments »Kemarin-kemarin gw pergi ke polres. Merasa sebagai pengalaman pertama, gw cukup excited (instead of takut atau gimana :D) haha ^ ^. Tapi ternyata setelah dipikir ternyata sudah 3 kali gw ke kantor polisi, yang bukan urusan bikin SIM, perpanjang STNK dan berbagai urusan non-crime lainnya.
Ini sejarah urusan gw dengan pak polisi:
Pertama, ke polsek Gondomanan, ngelaporin pencurian di kos-kosan (sebagai syarat memblokir kartu pasca bayar hp yang ilang). Baru kecurian, masih syok plus sedih, trauma, malah si pengetik laporan eh petugasnya sok gahar banget. Gw korban tau, bukan pelakunya!!! Huh ![]()
Kedua, polsek unit Depok di pojokan kampus UGM, again, lapor kehilangan. Kali ini yang ilang KTM. Sebenarnya, yang terjadi adalah.. waktu mo KRS/bayar SPP, KTM gw raib ntah dimana. Udah usaha dicari tapi belum juga ketemu, sementara limit waktu terus mendekat. Waktu bilang ke fakultas, malah gini yang terjadi:
Me : Pak, KTM saya hilang. Trus gimana ya (plus tampak sok memelas, berharap diberi dispensasi).
Dia : Lapor polisi aja mbak, minta surat keterangan hilang.
Me : (Ha? Orang mungkin ilangnya juga masih dikamar kos, kok lapor polisi?)
Dia : Ya kalo ga gitu ga boleh KRS mbak. Udah, lapor aja bentar, paling bayar 2 ribu.
Me : (berjalan gontai menuju kantor polisi terdekat, sesuai referensi)
Sampai disana, dengan sedikit arahan petugas plus imajinasi yang tinggi
dari oknum pelapor sendiri, akhirnya isi laporan adalah tentang terjadinya sebuah peristiwa kejahatan yang sangat berat dan serius, yaitu kasus pencopetan dompet berisi isinya di bis nomer 4 (rute ke Malioboro) pada suatu hari Selasa tanggal sekian sekian jam 4 sore. Total kerugian yang dialami korban sebesar 500 ribu atau berapa lah(agak lupa :D). Dengan perhitungan imajiner, dompet RipCurl:100ribu. Uang didalam dompet: 243ribu. SIM A+C:200ribu(biaya buat baru).
Ketiga, kemaren. Ke polres, dengan tujuan nemenin aja. (tumben nggak lapor kehilangan, hehe :D).
Dari ketiga kunjungan tersebut, hal yang bisa gw ambil hikmahnya adalah:
1. 100% kantor yang gw datengin udah agak butut (catatan, pemakaian kata ‘agak’ disini sangat diperlukan atas nama kesopanan :D).
2. 66% masih nulis laporannya pake mesin ketik.
3. 66% petugasinya ramah, ga reseh. 33% rese banget, sama sekali bukan penganyom masyarakat karena gw sebagai masyarakat sama sekali tidak merasa diayomi dan sejujurnya malah kalo bisa, pengen banget memasukkan yang 33% tersebut ke penjara eh ups :D.
4. 100% orang di sana, baik petugas, pengunjung, penjahat ato whoever he/she is, pasti ngeliatin semua pengunjung/orang yang lewat. Dan kebanyakan dengan muka haus gosip (terlibat kejahatan apaan ni orang..).
Ada yang nanya: Hes, lo aja kali, yang sensitif. Merasa orang ngeliatin lo. Takut ketauan ya? Haha.
I have 2 answer: Ya, betul. Tapi muka-muka disana memang penuh curiosity banget. Kenapa gw ngomong gini? Karena begitu gw udah disana, mendadak gue juga langsung bermuka gosip banget, penuh keingintahuan!
Contoh kasus:
Q: Pak, itu pak B disini ada kasus apa?
A: Itu keponakannya dilaporkan orang menggelapkan sertifikat. Sekarang sudah di LP.
Q: (mode pengen tahu off, mode gosip puas banget)
5. 100% petugas seharusnya ikut pelatihan menulis 10000 baris ‘the quick brown fox jumps over a lazy dog’ per hari. Baik yang menggunakan mesin ketik (dihapus pake tip-ex manual) atau komputer, tingkat salah ketiknya masih tinggi sekali. Juga bahasa yang digunakan kurang OK. Psst, ‘dikasihkan’ itu bukan bahasa tulisan yang bener kan? Sebagai masukan, seharusnya tulisan saya ini dikasihkan saja kepada bapak polisi yang saya temui kemarin. See, janggal ga seh, kalo dipakai sebagai bahasa formal. Jadi, selain kemampuan menembak, mungkin perlu juga diadakan pelatihan mengetik dan penguasaan bahasa.
6. Orang yang sama sekali belum pernah ke kantor polisi takut ke kantor polisi karena takut dinilai terlibat suatu kejahatan oleh orang lain.
7. Orang yang sama sekali belum pernah ke kantor polisi takut ke kantor polisi, mungkin takut urusannya ketauan.
8. Orang yang sama sekali belum pernah ke kantor polisi takut ke kantor polisi karena, ya.. takut aja.
9. Orang yang sama sekali belum pernah ke kantor polisi nggak nyaman ada di situ, pengennya cepat-cepat pulang.
10. Orang yang sudah akrab dengan kantor polisi nggak takut ketemu kenalannya disana. Santai aja, berasa ketemu di mall atau ditempat-tempat bersosialisasi lainnya :D. Walaupun resiko untuk ketauan urusannya di sana sangat besar. Masih dengan contoh kasus yang sama,
(Q: Pak, itu pak B disini ada kasus apa?
A: Itu keponakannya dilaporkan orang menggelapkan sertifikat. Sekarang sudah di LP).
11. Orang yang kesana memang pasti terlibat dalam suatu kejahatan ya. Baik sebagai pelapor kek, penjahatnya kek, atau sekedar saksi. Hm.. mang (kecuali lo kerja disana) sebaiknya ga usah sering-sering ke sana kali ya.. takutnya terinspirasi kan gawat. Hehe.
Sekian laporan kami dari tempat kejadian perkara. Hesti melaporan untuk FBNews (Friendster’s Blog). Waspadalah, waspadalah! ^ ^
Btw, berita gembiranya adalah, suatu hari KTM gw ketemu, ternyata tersembunyi dengan manis di saku sebuah tas di lemari gw. Well well well, pencopetnya baik banget ya, balikin KTMku tanpa kurang suatu apapun. Jadi, jangan takut naik bis nomer 4, guys. Aman, kok! ![]()
Ok, Selamat berhari Senin! ^ ^