Chicklit: Bukan Karya Kelas Dua(?)

Books 4 Comments »

Gw sering baca chikclit. Pengarang fave gw adalah Sophie Kinsella si miss shopaholic dan Meg Cabbot nan lucu kalau pas dia buat chicklit(agak jarang). Untuk pengarang yang lain, kalau resensi-nya terdengar menjanjikan dan tidak masuk akal –semakin nggak masuk akal semakin bagus hihi ;)– gw akan baca juga. Hehe. Ayo, jujur aja deh, memang itulah kan, yang diharapkan pembaca dari chicklit :D. Cerita yang bomba dan super duper romantis.

(I mean, ceritanya memang selalu bomba kan? Take this one for example (buat para chicklit-ers, ayo tebak, judulnya apa?;)). Si tokoh utama yang seorang nanny dilamar seorang bangsawan trus diajak ke kastilnya di Skotlandia, yang ternyata rencana pernikahan romantis mereka ini berubah menjadi bencana karena si bangsawan frigid. Tapi, sahabatnya-sesama nanny- datang dan si bangsawan malah naksir sahabatnya ini dan ternyata si bangsawan nggak jadi frigid. Lalu, masih di desa kecil di Skotlan itu, ada seorang penyair kumel yang akhirnya jatuh cinta sama dia, yang ternyata sebenarnya ahli waris kaya raya, lebih kaya dari si bangsawan pertama tadi. Belum lagi ada cerita tentang musisi rock gaek dan istrinya yang penulis cerita roman picisan yang ikut jadi tamu di kastil itu. Haaa.. bisa lebih nggak masuk akal lagi nggak sih?=jawabannya, bisa! Tanya Harry Potter kenapa dia selalu bertingkah nggak masuk akal. Sampai akhirnya ayah angkatnya MATI gara-gara kesembronoannya. Eh jadi ngelantur kemana-mana fufufu :p. Ya, intinya cerita chicklit itu bomba. Period)

Banyak yang bilang, chicklit tuh ‘gw banget’. Termasuk kata mbak chicklit Indonesia, Icha Rahmanti sang Cintapucino. Karena ‘gw banget’ itulah chicklit laris manis. Katanya, karena ceritanya yang ringan dan familiar. Yang bahasanya seperti bahasa sehari-hari (bukan penulisan formal yang patuh EYD yang bikin ngantuk eh :D). Yang tokoh utamanya bukannya seorang super power yang selalu berhasil melakukan apapun. Tapi justru seorang cewek lemah yang sedang berjuang mencari kestabilan. Apapun itu. Pekerjaan, kepribadian, pasangan hidup, hubungan sosial, yada yada yada.

Cerita macam gini banyak disuka karena memberi spirit baru, untuk mengubah diri, untuk mencoba meraih impian yang selama ini bagai utopia, atau apapun deh, pokoknya cerita-cerita chicklit itu dianggap inspiring, gitu.

Chicklit memang biasanya selalu bercerita tentang perjuangan seorang cewek dalam meraih kestabilan yang dibutuhkannya. Seperti yang sudah gw sebut diatas, apapun bentuk kestabilan itu. Entah pekerjaan, finansial, pasangan, dan seterusnya. Dan hampir pasti, fase-nya juga sudah baku. Hidup seorang mbak twenty sumthing yang biasa-biasa aja sampai boring –trus tiba-tiba timbul masalah, misal dipecat atau putus atau bangkrut atau apapun –terus dia down, fase galau, menenggelamkan diri di apartemen, memutuskan hubungan dengan dunia luar –kemudian ada momen yang menyadarkan dia, biasanya momen yang buruk=learn in a hard way,bahasa kerennya –terus terakhir, akhirnya dia sadar, mengubah kehidupannya selama ini dengan drastis, menjadi lebih baik, dan finalnya dia mendapatkan apa yang sebenarnya dibutuhkannya (ternyata, apa yang diinginkannya adalah bukan yang ia butuhkan. Yang benar-benar dibutuhkannya sebenarnya sudah ia miliki..). And they live happily ever after. Horray..

Dan tentu saja chicklit juga harus dibumbui berbagai macam hal dibawah ini agar menarik.
Pertama, tokoh pria yang ganteng, sukses kariernya, kaya, well-dress, cool tapi good-manner, tinggi, perut six-pack, good-kisser, sexy dll pokoknya bak dewa Yunani yang terpahat sempurna.
Kedua, penggambaran seluruh kehidupan di chicklit dengan merek-merek terkenal. Dari outfit desainer, mebel, mobil, tempat-tempat hang out keren, tempat liburan, nama toko/department store, make-up, hair dresser, hingga makanan dan minuman.
Tiga, adegan ciuman-atau syukur-syukur lebih :D (Buat si tante: Hey, Te! Sebenernya, yang dicari tuh chicklit atau bokep siii haha ;))

Tapi, dilihat hal-hal diatas (terutama fase cerita yang baku), membuat chicklit banyak dihujat juga. Dianggap terlalu dangkal dan kurang berbobot. Eh, sama aja ya :D. Ya, pokoknya banyak yang nggak rela kalau chicklit disebut sebagai sebuah karya sastra. Bahkan novel pun punya plot yang seringkali cerdas dan ide cerita yang luar biasa. Belum lagi ending yang mengejutkan. Bandingkan dengan chicklit yang endingnya aja sudah tertebak dari judulnya :p.
Contoh:
-Shopaholic Ties the Knot, berarti miss Shopaholic bakalan married. Itu endingnya. Tapi namanya juga shopaholic, pasti ada masalah dulu, yang berkaitan dengan ke-shopaholic-annya tersebut. Bangkrut kek, ribut sama calon suaminya dulu kek, dan seterusnya dan seterusnya.
-The Guy Next Door, berarti ada tetangga sebelah apartemen yang lumayan potensial untuk jadi mister right, tapi agak misterius. Misterius adalah kata kuncinya. Bakal ada pendekatan, tapi hubungan mereka kandas karena adanya suatu kebohongan. Tapi, tenang aja, saat kebohongan itu terungkap, ending manis sudah menunggu. The guy next door akan jadi pasangan sejatinya.
Dan judul-judul lainnya, gw nggak mau ngasih spoiler, takutnya jadi ngancurin kesenangan atau rasa penasaran yang lagi mo baca chicklit. It’s not fair dunk ah ;)
TAPI, gw barusan baca chicklit yang ternyata OK banget. Dan menyadarkan gw, kalau chicklit tidaklah pantas dihina dina sebegitu rupa, dianggap karya sastra kelas dua, yang tidak berkelas. Yaitu, The EX Files-nya Jane Moore.

Okelah, cerita-nya pastilah klise. Tentang seorang cewek yang mengira ia sudah melakukan hal yang tepat dengan menikahi pacarnya sekarang. Mengira ia mencintai cowok itu seperti halnya cowok itu mencintainya. Padahal sebenarnya dia nggak mencintainya, cowok itu. Bukan cinta yang seperti ‘itu’ yang ia rasakan. He’s not the one, actually.

Kejutannya ada di bagian belakang. Hampir-hampir mendekati ending. Yang membuat gw jadi sadar kalau pengarangnya sangat cerdas. Dia menciptakan karakter-karakter dalam novel ini begitu wajar. Terasa sangat real-life.

Seorang teman pernah berkata sama gw, kalau menurut dia, artist atau seniman, adalah orang-orang yang sangat peka. Ini meliputi semua orang yang kreatif, artistik, dan selalu menggunakan otak kanannya untuk berpikir ;). Pelukis, penulis, pembuat film, pemahat, fotografer etc. Mereka tahu persis, macam-macam karakter manusia dan permasalahan antarnya. Karena itulah mereka bisa membuat sebuah karya yang begitu menakjubkan. Yang terasa begitu real. Seperti lukisan yang begitu menyentuh kalbu. Atau buku yang sangat bagus. Film yang begitu memorable, foto yang sangat menakjubkan dan seterusnya.

Begitu pula penulis chicklit ini. Dia nggak akan bisa menulis sebuah cerita bagus tanpa tahu karakteristik manusia. Hingga yang terdalam. Well, bahkan, saking real-nya, kadang gw merasa kalau para penulis itu sebenarnya adalah seorang psikolog yang jebolan jurusan sastra =).

Mungkin cerita chicklit dangkal dan mudah tertebak. Tapi, coba lihat deh, bagaimana penggambaran karakternya? Konsisten nggak? Terasa wajar nggak? Juga, alur ceritanya. Pesan moralnya. Endingnya yang OK. Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun sebuah chicklit yang bagus. Tidak mudah juga lho, menyusun sesuatu yang sederhana agar menjadi bomba tapi tetap o-k-a-y. Dan chicklit yang satu ini, sudah membuktikannya. Bahwa dia bukan karya kelas dua ^ ^

PS: Buat tante, adegan-adegan you-know-what-nya nggak terlalu banyak, bo. Jadi, jangan berharap banyak, ok ;) hihihi =))

PPS: The EX-Files. Dilihat dari judulnya, mungkin pembaca bakalan ngira akhirnya si cewek ini instead meneruskan menikah dengan cowok-he’s-not-the-one-nya dia justru akan balik dengan mantannya, gitu kan. Tapi ternyata, nggak tuh. See, chicklit nggak dangkal-dangkal amat kok. Kadang ada kejutannya juga lohh. Karena ternyata, cewek ini akhirnya jadiannya sama k*** eh, sensor ya. Spoiler alert! Spoiler alert! Tidak baik merusak kesenangan yang mungkin belum baca, yang mo menikmatinya tanpa ada orang crewet ngasih tau endingnya.. :D

James Bond and The World Trade Center

Film 8 Comments »

Nggak ada hubungannya siii, James Bond sama WTC :D. Maksudnya, waktu nonton James Bond, iklannya kebetulan trailernya World Trade Center-nya Nicholas Cage, geto. Hpmf.. kayanya gw males banget deh nonton film ini besok-besok(WTC). Habis, liat trailer-nya (yang cuma sekian detik) aja, I almost cry! Dah berkaca-kaca dan terisak-isak. Uhhh. Pasti filmnya lebih menyedihkan. Bikin nangis bombay ABISS….

[But, its useless(niat gw maksudnya). Coz I know, I’ll watch it anyway, no matter what. Karena, tampaknya filmnya bagus. Pesan moralnya OK. Dari line-nya aja keliatan,
“The world see evil that day. But these two men see other..” sambil syut gambarnya menjauh dari gedung, naik ke atas, sampai awan-awan(Two man=anggota NYPD, Nicholas Cage sama.. mmm, Michael Pena, yang main di Crash juga).

What? What did they see? Humanity? Death? Life? Angel? Or even.., God? See, bikin penasaran kan. Yup. Siap-siap aja deh mata sampai bendul :D. Dan bawa tisu yang banyak ya.. :_(

Terus tentang James Bond..
Yes!!! I knew they made a rite decision when they choose Craig. Daniel Craig James Bond banget gitu loh. He’s definitely the best James Bond ever. Eh tunggu, dibanding Connery… Emm.. hard 2 choose juga siii.. emm.. yang mana ya…

Anyway, tapi kalo dibanding yang lain, plis deh:
Pierce Brosnan: terlalu flamboyan gayanya. Harusnya Cempaka atau Tulip. Ha? :D Timothy Dalton: Kurang..gimana ya..
Roger Moore: Matanya terlalu evil ga sii
Sean Connery: Tob. Lebih dari top maksudnya
George Lazenby: Tau. Gw belum lahir. Jadi blm pernah nonton si Om Lazenby in action.
Barry Nelson: Excuse moi? Barry who?
Daniel Craig: He’s the real Bond. James Bond ^ ^

PS: Yang pengen liat sisi lain dari Daniel Craig, tonton Enduring Love. Disitu dia jadi dosen! Jauh banget ga sehh, dari peran James Bond (maap buat pak dosen). Tapi teteup, pak dosennya ditaksir sana-sini dunk, termasuk seorang laki-laki yang ternyata psycho. Film Craig lain yang keren: Layer Cake. Harus nonton sampai selesai loh. Ending-nya bener-bener syocking! ^ ^

[di-edit tanggal 24 dec 2006]
Selain Enduring Love dan Layer Cake, Craig juga main jadi pacarnya Tomb Raider di The Craddle of Life, Road to Perdition, sama Sylvia. Di Sylvia, Craig main jadi Oliver Platt, suaminya the famous-Sylvia Platt(Gwyneth Paltrow). Ya ampun, beda banget. Craig bener-bener kurus dan culun. Tapi tetep, kesan bengisnya kerasa banget.

Btw, katanya, para fans dan antifans :D Craig berlomba buat site. (Tapi barusan kubuka kok ra iso?). Choose your side, guys. Which one,
www.danielcraigisnotbond.com
Or,
www.danielcraigisbond.com ?
Gw, jelas yang terakhir dunk ^ ^

Enough is enough

Current Affairs No Comments »

Walah, ternyata sudah tiga kali topik p-o-l-i-g-a-m-i dibahas di blog ini. Which is di sini, sini, sama sini. Dah ah, cukup. Bosen, tau Hes..
^ ^

Jikustik dan Poligami

Current Affairs 2 Comments »

Hi. Tadi siang gw dateng ke press conference launching album baru-nya Jikustik, Siang. Nggak usah heran, gw kan memang press banget gitu loh. Kontributor paling aktip untuk Friendster’s blog hihi :D.

Anyway, acara-nya berlangsung sederhana tapi oke. Intens dan hangat. Mereka tampak bersikap biasa aja. Ya nggak tahu sih aslinya gimana. Tapi yang jelas mereka nggak belagu atau sok superstar. Well, afterall, ini kan di Jogja. Rumah mereka sendiri ;). Masa sih mau jaim. Bisa-bisa dikapruk orang sekampung(nya mereka) hehe.

Pongki sendiri malah sambil ketawa-ketawa dengan enteng mengatakan mereka termasuk salah satu band yang paling nggak laris digosipin. Jarang masuk infotainment. Karena nggak menarik, kata Pongki. Jikustik ya..gini-gini aja katanya ^ ^. Beda kaya band-band anak muda yang lagi laris (apa maksud Pongki tuh Nidji, Samson, dll? :D).

Ada seorang penanya dari Media Indonesia yang bilang kalau, album Jikustik temanya selalu tentang ‘cinta orang dewasa’. Mereka ketawa dan jawab, “Ya..memang inilah adanya kami. Paruh baya. Eh ya belum lah paruh baya. Remaja. Weh, dah nggak remaja lagi lah. Opo yo? Remaja dewasa…”
Kekekek =)). Plis deh. Mereka? Om-om gitu dibilang remaja??? :D. Bener, bener, remaja dewasa lumayan juga. Walau..remaja paruh baya mungkin lebih cocok? Fufufu :p.

Terus, ada seorang wartawan (mungkin), yang nanya, gimana pendapat Jikustik tentang p-o-l-i-g-a-m-i. “Mungkin bisa dijadiin lagu, mas,” sarannya. Yaiks. Yang bener aja Om :/. Lalu, Jikustik pun memberikan pendapat tentang poligami. All of them. One by one. (eh, kecuali Dadi. Dia ga ngasih pendapat. I wonder why ;))

Pongki bilang, “istri hanya satu, dan yakin itu pasti yang terbaik buat saya” (Go, Sofie, go! =)). Dan karena agamanya dia juga yang nggak kenal istilah poligami.

Adit bilang, “ngurus istri satu aja repotnya minta ampun. Apalagi dua.” (Helloo..jadi penasaran, emang Adit disiksa sampai separah apa sehh hehe :p) .

Carlo bilang, apa ya.. aku kok lupa Carlo bilang apa? Maap Carlo, bisa diulang? :D
Yang paling keren, adalah apa yang Icha bilang. Bukan, bukan, sungguh, ini nggak ada hubungannya dengan wajahnya yang memang paling ganteng diantara mereka semua ;). Icha bilang gini,
“Kayanya saya orang yang nggak tepat ditanyain soal poligami, soalnya satu aja belum. Tapi, ini sedikit dakwah ya..menurut saya, ya, walau dibolehkan, tapi itu yang melakukan kan seorang Nabi, bukan manusia biasa. Dia yang melaksananakan berbagai sunah-sunahnya sendiri. Blablabla..
Waktu Aisyah ditanya, gimana perasaannya, katanya sebenarnya ada gemuruh di dada. Seperti terbakar. Ada cemburu kalau ngeliat Nabi(dan istrinya yang lain, kali :p-red). Padahal dia istrinya NABI. Apalagi kita yang manusia biasa. Saya memang laki-laki, tapi saya mengerti perasaan perempuan(yang dipoligamikan-red). Blablabla..”

[Eh, jadi inget, Carlo kira-kira bilang gini, saya hanya manusia biasa. Satu sudah cukup, dan itu yang terbaik. Maapkan saya, Carlo :D]

Aneh. Launching album malah jadi ngomongin poligami. Ya sud, sekian laporan hari ini. Kesimpulannya apa? Kesimpulannya Jikustik ngeluarin album baru. Dulu pernah Pagi, sekarang Siang, yang berikutnya (rencananya) Malam. Trilogi nih, ceritanya? :) Kata Pongki, “Dulu juga sempat ada ide nama Darah, Keringat dan Air Mata untuk namain trilogi album kita. Tapi kok nggak enak ya kesannya. Nanti moso’ kalo nyebutin, ya, ini dari album Darah. Atau..diambil dari album Keringat…”

Whahaha, bener, bener. Ntar keburu pada ilfil dengernya :/.
Ok, sekian. Kali ini beneran sekiannya. Hesti melaporkan dari Joglo resto, kompleks Kolombo.
Have a nice weekend anyone ^ ^.

Finding God (no, not Nemo)

Religion 4 Comments »

We are so lucky. Have you ever realized that?
Why? Because, we are living, now, in this time (baca: ketika teknologi dan ilmu pengetahuan sudah sebegini maju).

Sebentar, yuk, pergi ke masa lalu. Bayangkan orang jaman dulu. Take Ibrahim for example. Yup, ‘that’ Ibrahim. The Prophet.
Lima ribu tahun yang lalu. Nabi Ibrahim, untuk menemukan Tuhannya, harus melalui perjalanan yang amat panjang dan (pastinya) membingungkan. Dia harus mengira-ngira, menebak, siapakah Tuhannya yang sejati..
Apakah matahari? Atau apakah bulan?

Sekarang, ayo maju dikit, ke seribu empat ratus tahun yang lalu. Jamannya Muhammad. Nabi Muhammmad menyepi di gua Hiro for a while, baru mendapat Wahyu. Pencerahan.

Usaha mereka sungguh luar biasa. Dan yang lebih hebat, saat itu bukti ilmiah pasti belum ada gitu loh. Jadi, kok bisa ya, (pengikut) Nabi Muhammad bisa yakin bahwa Quran itu benar? Bahwa apa yang ada di dalamnya adalah bener, dan bukannya usaha tipu-tipu/palsu/bajakan? (Emangnya di sini gitu loh; film bajakan, tupperware palsu :D, jeans palsu, tas palsu, obat palsu, teh (dalam) botol palsu, chiki palsu, taro palsu, terasi palsu, bahkan sekarang bedak bayi juga dipalsu!!-bahaya banget ga seh >:)

Nah, kembali ke masa sekarang. Hare gene.. ;)
Berbagai bukti ilmiah sudah ditemukan. Berbagai penelitian sudah membuktikan. Misalnya, tentang penciptaan dunia. Akhirnya terbukti, bahwa MEMANG kalimat-kalimat dalam Quran mengandung kebenaran. Kaya nama grupnya Gwen Steffani nan cantik ^ ^, No doubt, bo!

Seperti, memang dunia tercipta dalam 6 masa (Al Hadiid ayat 4). Bukti ilmiah, silahkan googling aja, teori dari para ahli astronomi (alias gw males nyarinya :D. Ada yang bisa bantu mungkin, nambahin link tentang teori 6 periode terjadinya dunia?).
Dan memang dalam penciptaan dunia(baca:Big Bang), langit berwarna kemerahan mawar (Ar Rahman ayat 52)=bukti ilmiahnya, dari foto-foto teleskop Hubble dunk. Beneran dulu waktu Big Bang, langit=angkasa, berwarna kemerahan dan sekaligus bentuknya kaya bunga mawar. Keren banget(fotonya).

Juga, memang matahari bersinar(cahaya dari dirinya sendiri) dan bulan memantulkan cahaya, dan bahwa matahari adalah pusat orbit (Yunus ayat 5). Bukti ilmiahnya? Masa sih, harus gw sebutin ;) …mang dulu pas pelajaran IPA di SD kemana aja.. :D.

Contoh lain, memang ada dua laut yang bertemu dan antara keduanya ada batas yang strict, sehingga nggak mungkin membaur (Ar Rahman ayat 19). Eh, btw, lutu banget nggak sih, di tengah laut gitu ada garis batasnya :D.
Anyway, kembali ke topik, maksudnya tuh laut/selat Gibraltar, Spain, yang menghubungkan ujung benua Eropa dan Afrika. Selat Gibraltar adalah tempat pertemuan antara Laut Atlantik dan Laut Tengah (is it?Bener nggak sih Laut Tengah :D). Perbedaan tingkat garam antar keduanya tinggi, jadi sampai kapanpun ya nggak akan bercampur, pasti ada garis batas gitu deh.

Hello.. jaman dulu, mana ada sih yang, tahu, bahwa hal-hal yang dikatakan dalam Quran adalah benar. Di abad tujuh gitu loh. Misal kaya hal-hal diatas. Tapi iman mereka tak tergoyahkan. Ibadah mereka luar biasa.

Sekarang, ayo, bandingkan dengan kita. Semua bukti ilmiah sudah ada. Semua kemudahan telah tersedia. Mau mempertebal iman, ke DT, pengen ketemu Aa Gym, bisa (weits, tenang dulu. Walau dia melakukan poligami bukan berarti dia mendadak jadi jahat & nggak OK. Dia tetep Aa yang dulu kok (semoga ^ ^). Kalem, menyenangkan. Bedanya.. sekarang istrinya dua! Waks..).

Terus, mau dzikir bareng, tinggal undang ustadz yang mana. Mo pilih yang paling ganteng biar lebih semangat dzikirnya juga bisa ;). Mau lebih menghayati arti hidup(dan mati), ikut ESQ, bisa. Mau dapat pencerahan tiap hari, bisa dapet sms mutiara dari Da’i yang mana saja, tinggal pilih. Tiap pagi habis Subuh, mau ikut pengajian Ustadz/ah yang mana aja, tinggal pencet remote tipi.

Kesimpulannya, hare gene, gampang banget nggak sehh, untuk bertemu dengan Tuhan :). Kita nggak perlu bertapa dulu empat puluh hari empat puluh malam di sebuah hutan di gunung Lawu (jangan lupa bawa Autan/Lavenda/dkk satu karton!). Juga nggak perlu menyembah matahari/bulan dulu dalam proses pencarian Tuhan (Matahari eh bulan, ya..dua-duanya lebih baik sih, siapa tahu lebih manjur.. Matahari dan bulan, minta laptop dunk!=ini contoh-red ^ ^).

Karena sebenarnya, pada detik kita (berusaha) mencari Tuhan, saat itulah kita sudah menemukanNya. Seperti kata monsieur Paulo Coelho yang sungguh keren di The Alchemist-nya, “setiap detik dari pencarian adalah perjumpaan dengan Tuhan”. Kalau masih kurang mantep ;), ini ada lagi kata-kata si Om Blaise Pascal yang menyatir kalimat seakan-akan dari Tuhan, “Kau tidak akan mencariKu kecuali jika kau telah menemukanKu.”

Kita sebenarnya nggak perlu kemana-mana. Karena Tuhan sebenarnya SELALU ada, nggak pernah hilang sehingga harus dicari. (Emangnya Tuhan dompetku, yang selalu menghilang :D. Ayo lapor polisi!
“Pak lapor, Tuhan saya hilang… “
“Ha? Kamu ngerjain saya ya?! Kurang ajar. Masuk penjara!”
DZIG…) Hehe :D.

Untunglah, percakapan diatas nggak akan pernah terjadi. Karena, Tuhan nggak pernah hilang. Bahkan Tuhan sangat dekat dengan kita. In fact, lebih dekat daripada urat leher kita sendiri (Qaaf ayat 16). Juga masih dari Al Hadiid ayat 4, yang nyebutin Tuhan bersama kita dimana saja kita berada.

See, seek no more my dear friend :). Nemo aja ketemu. Apalagi Tuhan gitu loh ;). Karena Dia, memang sudah dan selalu ada, di dekat kita. We already found God! (yang sebenarnya tidak pernah hilang, juga).
“Pak, lapor, Tuhan saya sudah ketemu. Ternyata di urat leher saya sendiri..”
“Ha? Kamu ngerjain saya lagi?! Kurang ajar. Masuk penjara lagi!!!”
DZIG…

Jogja, 4 Desember 2006
Special post untuk mas Adrian & mas Fallas (plus Ade of Cilacap) yang sudah menunjuk tepat di urat leherku ;). You rock, guys! ^ ^

Berantakan

Weblogs No Comments »

What a mess!
Liat kategori di blog ini. Banyak bener? Masa ada sebelas. Plis deh. Mana banyak yang double, lagi. Harus berbenah rumah dulu ni..

[updated lima menit kemudian]
Sudah gw liat kategori-kategori yang ada. Tolong! Ga tega buangnya..
Aneh..

Begitu pula halnya dengan posting ini, tampaknya.
Aneh..

^ ^
[maklum dah jam setengah satu dini hari-padahal biasanya nonton tipi juga ga pernah nyampe dunia dalam berita-ga pernah nonton tvri soalnya :D]

Satu Jam Extra

Life 4 Comments »

Sehari ada 24 jam penuh yang bisa kita manfaatkan. For some (or most?) people, sekarang (baca: hari genee), 24 jam dalam sehari itu masih kurang. Mereka butuh tambahan waktu dalam sehari. 24 jam itu terlalu sempit :). Katanya…

Kok bisa gitu? Yah, alasan klasiknya sih pasti..ga bisa bagi waktu. Atau, karena memang beban kerjaan yang luar biasa. Atau.. ada satu lagi, penyebab yang mungkin lebih masuk akal tapi jarang diakui frontal ;), adalah… karena, kita memilih untuk itu. Ya iyalah. Dapet tambahan proyek lagi, masa ditolak? Bos memberi tugas lagi dan lagi, apa kita bisa nolak? Jawabannya, sebenarnya, bisa kalau kita mau ;). But sometimes (or often) we choose not to.

Whatever deh ;). It’s not the issue I want to talk about rite now. Sekarang, yang pengen gue tanya adalah, kalau kamu punya waktu tambahan diluar 24 jam itu, what will you do?
Misalnya, entah bagaimana, kamu bisa dapet satu jam extra di suatu hari. Apa yang bakal kamu lakukan di satu jam bonus itu? Jam ke 25 yang menakjubkan itu ;) Inilah hasil jawaban interview gue dengan beberapa orang.

Teman 1:
Tidur.

Teman 2:
Nyelese-in baca buku Da Vinci Code yang belum kelar-kelar juga. (Hari gini??)

Teman 3:
Sholat tobat. (Wow! Well done, bro! ;))

Teman 4:
Main sama ponakan tercinta.

Teman 5:
Pacaran. (duh!)

Teman 6:
Menyiksa orang yang tanya-tanya hal yang ga penting kaya gini. (Hwhat?! Huhu.. kejam kamu! . Ini hal yang penting banget tau ga sehhh :D)

Teman 7:
Kaskus, kaskus, kaskus

Teman 8:
Friendster, chatting, chatting, chatting

Teman 9:
Bikin lagu (Kewl!)

Teman 10:
Coding (mck..ck..)

Teman 11:
Dugem gila-gilaan (Cuma sejam? Shake your bon-bon, babe ;))

Teman 12:
Menyelesaikan penulisan thesis (Hahaha, yang ini bo’ong deng :D. Jawaban fiktif bo. Tapii, kenapa ya, ga ada yang jawab gini?? :p :p)

Wah, ternyata, kok, masih berbau hal-hal yang biasa dilakukan di 24 jam itu juga ya..
Berarti.. apapun hal yang ingin kita lakukan di jam ke-25 itu, sebenarnya bisa kita lakukan/sempatkan dilakukan dalam 24 jam hidup kita kan ;). Hanya sekarang, pertanyaan yang perlu dijawab adalah: maukah kita melakukannya? Bisakah kita memilih untuk melakukannya, menyelipkannya diantara kesibukan yang luar biasa dalam 24 jam hidup kita?

So, kalau kamu, apa yang mau kamu lakukan di jam ke-25 mu, teman? ;) Dan, maukah coba menyelipkan melakukannya dalam 24 jam yang kita miliki? ^ ^

Tea Set

Life 4 Comments »

Aneh, kenapa sih most people memutuskan untuk ngado tea set for a newly wed. Please deh, mentang-mentang pasangan baru, bukan berarti mereka butuh beberapa set perangkat minum teh dunk :D. Lagian, biasanya isi tea set itu 4 atau 6 cangkir. Kalau tamunya ada lebih dari 7 gimana? Mau pake 2 set hasil kado, jadi cangkirnya beda-beda??

Akan sangat lebih berguna :p, kalau kadonya berupa tea set serius (or money to buy it ;)) yang isinya sekian lusin cangkir, sehingga si pengantin baru akan punya perangkat jamuan yang proper, bukannya campuran beberapa tea set formalitas yang beda-beda bentuk & motif. Hehe. Wahai para pengado tea set, bertobatlah ;)
Atau, kalau memang mau benar-benar ngasih sumthing yang memorable, please be creative. Seperangkat usefull tools yang kinky ;) mulai dari lingerie sampai borgol eh ups :p. Atau buku-buku keren kaya ‘How (not) To Lose Your Spouse in 10 days’ :p dan sebagainya, dan sebagainya.

Whateverlah.

Yang penting, no more tea set please..
^ ^

One Lovely Moment

Life No Comments »

Sore itu, gw lagi jalan di trotoar a.k.a sidewalk di jalan Kaliurang (sekitar kilometer 4). Sore yang menyenangkan. Cerah, tapi nggak panas. Terus udah mulai sejuk gitu deh, tapi nggak mendung juga. Angin juga berhembus lembut :D. Pokoknya, it was one lovely afternoon.

Tiba-tiba, suasananya tampak keren banget. Sebuah lagu, What a Wonderful World-nya Louis Amstrong mendadak terdengar di telinga gw. Mengiringi langkah gw. Drama banget nggak sehh.. hahaha ;). Tapi bener, sungguh suasananya kerasa keren banget. Gw kaya lagi di sebuah video klip, soundtrack film tentang hidup gw sendiri. What a Wonderful World is the song. Yang kaya gini nih, sebagian liriknya… (lo bacanya harus sambil nyanyi lho ;))

“Well I see skies of blue and I see clouds of white
And the brightness of day
I like the dark and I think to myself
What a wonderful world

The colors of the rainbow so pretty in the sky
Are also on the faces of people passing by
I see friends shaking hands
Saying, “How do you do?”
They’re really saying, I…I love you”

Lebih keren lagi, angin bertiup, niup rambut panjang gw, bo (cie ;)). So, there I was, berjalan dengan ceria, gembira dan bahagia, dengan iringan lagu by Louis Amstrong himself, and starring my own movie ;).

TAPI, mendadak (btw, sebel nggak sih, kalo ada kata ‘tapi’. Pasti habis itu ada sumthing yang nggak enak nih :D..). Ah, jadi nggak enak juga nih kalimatnya, dah kepotong. Esensinya ilang, dah nggak kerasa. Gw ulang lagi..

TAPI, mendadak.. suara Louis Amstrong-nya berhenti tiba-tiba. Berganti suara kaya kaset kusut nan rusak, nggak jelas gitu. Ceruwsssekssersssssstttttt… gitu deh kira-kira. Oh, no. What is going on? Tiba-tiba gw denger ada suara nggak enak yang teriak-teriak keras banget manggil gw dari arah jalan raya.

“MBAK, MBAK, Ayo, Mirota mbak…”
Ternyata oh ternyata, ada kondektur/kenek/kernet bis kota yang manggil-manggil gw dengan semangat sambil tangannya ngajak masuk bis.

Sial! Rusak deh moment keren gw tadi. Buyar, semua lenyap hilang gara-gara kornet/kernet sialan (eh ups :D) itu. Hello..secara gw lagi jalan ya, tolong. JALAN, bukannya lagi berdiri nunggu angkot…

Hehehe ^ ^. Anyway, pernah nggak ngerasa gitu juga, guys? Tiba-tiba aja ada lagu yang terngiang di kepala lo dengan sangat jelas dan jernih. Mana lagunya pas banget sama suasana saat itu. Terserah pas lagi suasananya gimana. Lagi seneng, lagi sedih ketauan selingkuh, atau ketauan diselingkuhi :D, dan seterusnya dan seterusnya.

Apapun suasananya, tapi pasti keren/asik kan :). What a wonderful world… ^ ^


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in