Chicklit: Bukan Karya Kelas Dua(?)
Books December 24th, 2006Gw sering baca chikclit. Pengarang fave gw adalah Sophie Kinsella si miss shopaholic dan Meg Cabbot nan lucu kalau pas dia buat chicklit(agak jarang). Untuk pengarang yang lain, kalau resensi-nya terdengar menjanjikan dan tidak masuk akal –semakin nggak masuk akal semakin bagus hihi ;)– gw akan baca juga. Hehe. Ayo, jujur aja deh, memang itulah kan, yang diharapkan pembaca dari chicklit :D. Cerita yang bomba dan super duper romantis.
(I mean, ceritanya memang selalu bomba kan? Take this one for example (buat para chicklit-ers, ayo tebak, judulnya apa?;)). Si tokoh utama yang seorang nanny dilamar seorang bangsawan trus diajak ke kastilnya di Skotlandia, yang ternyata rencana pernikahan romantis mereka ini berubah menjadi bencana karena si bangsawan frigid. Tapi, sahabatnya-sesama nanny- datang dan si bangsawan malah naksir sahabatnya ini dan ternyata si bangsawan nggak jadi frigid. Lalu, masih di desa kecil di Skotlan itu, ada seorang penyair kumel yang akhirnya jatuh cinta sama dia, yang ternyata sebenarnya ahli waris kaya raya, lebih kaya dari si bangsawan pertama tadi. Belum lagi ada cerita tentang musisi rock gaek dan istrinya yang penulis cerita roman picisan yang ikut jadi tamu di kastil itu. Haaa.. bisa lebih nggak masuk akal lagi nggak sih?=jawabannya, bisa! Tanya Harry Potter kenapa dia selalu bertingkah nggak masuk akal. Sampai akhirnya ayah angkatnya MATI gara-gara kesembronoannya. Eh jadi ngelantur kemana-mana fufufu :p. Ya, intinya cerita chicklit itu bomba. Period)
Banyak yang bilang, chicklit tuh ‘gw banget’. Termasuk kata mbak chicklit Indonesia, Icha Rahmanti sang Cintapucino. Karena ‘gw banget’ itulah chicklit laris manis. Katanya, karena ceritanya yang ringan dan familiar. Yang bahasanya seperti bahasa sehari-hari (bukan penulisan formal yang patuh EYD yang bikin ngantuk eh :D). Yang tokoh utamanya bukannya seorang super power yang selalu berhasil melakukan apapun. Tapi justru seorang cewek lemah yang sedang berjuang mencari kestabilan. Apapun itu. Pekerjaan, kepribadian, pasangan hidup, hubungan sosial, yada yada yada.
Cerita macam gini banyak disuka karena memberi spirit baru, untuk mengubah diri, untuk mencoba meraih impian yang selama ini bagai utopia, atau apapun deh, pokoknya cerita-cerita chicklit itu dianggap inspiring, gitu.
Chicklit memang biasanya selalu bercerita tentang perjuangan seorang cewek dalam meraih kestabilan yang dibutuhkannya. Seperti yang sudah gw sebut diatas, apapun bentuk kestabilan itu. Entah pekerjaan, finansial, pasangan, dan seterusnya. Dan hampir pasti, fase-nya juga sudah baku. Hidup seorang mbak twenty sumthing yang biasa-biasa aja sampai boring –trus tiba-tiba timbul masalah, misal dipecat atau putus atau bangkrut atau apapun –terus dia down, fase galau, menenggelamkan diri di apartemen, memutuskan hubungan dengan dunia luar –kemudian ada momen yang menyadarkan dia, biasanya momen yang buruk=learn in a hard way,bahasa kerennya –terus terakhir, akhirnya dia sadar, mengubah kehidupannya selama ini dengan drastis, menjadi lebih baik, dan finalnya dia mendapatkan apa yang sebenarnya dibutuhkannya (ternyata, apa yang diinginkannya adalah bukan yang ia butuhkan. Yang benar-benar dibutuhkannya sebenarnya sudah ia miliki..). And they live happily ever after. Horray..
Dan tentu saja chicklit juga harus dibumbui berbagai macam hal dibawah ini agar menarik.
Pertama, tokoh pria yang ganteng, sukses kariernya, kaya, well-dress, cool tapi good-manner, tinggi, perut six-pack, good-kisser, sexy dll pokoknya bak dewa Yunani yang terpahat sempurna.
Kedua, penggambaran seluruh kehidupan di chicklit dengan merek-merek terkenal. Dari outfit desainer, mebel, mobil, tempat-tempat hang out keren, tempat liburan, nama toko/department store, make-up, hair dresser, hingga makanan dan minuman.
Tiga, adegan ciuman-atau syukur-syukur lebih
(Buat si tante: Hey, Te! Sebenernya, yang dicari tuh chicklit atau bokep siii haha ;))
Tapi, dilihat hal-hal diatas (terutama fase cerita yang baku), membuat chicklit banyak dihujat juga. Dianggap terlalu dangkal dan kurang berbobot. Eh, sama aja ya :D. Ya, pokoknya banyak yang nggak rela kalau chicklit disebut sebagai sebuah karya sastra. Bahkan novel pun punya plot yang seringkali cerdas dan ide cerita yang luar biasa. Belum lagi ending yang mengejutkan. Bandingkan dengan chicklit yang endingnya aja sudah tertebak dari judulnya :p.
Contoh:
-Shopaholic Ties the Knot, berarti miss Shopaholic bakalan married. Itu endingnya. Tapi namanya juga shopaholic, pasti ada masalah dulu, yang berkaitan dengan ke-shopaholic-annya tersebut. Bangkrut kek, ribut sama calon suaminya dulu kek, dan seterusnya dan seterusnya.
-The Guy Next Door, berarti ada tetangga sebelah apartemen yang lumayan potensial untuk jadi mister right, tapi agak misterius. Misterius adalah kata kuncinya. Bakal ada pendekatan, tapi hubungan mereka kandas karena adanya suatu kebohongan. Tapi, tenang aja, saat kebohongan itu terungkap, ending manis sudah menunggu. The guy next door akan jadi pasangan sejatinya.
Dan judul-judul lainnya, gw nggak mau ngasih spoiler, takutnya jadi ngancurin kesenangan atau rasa penasaran yang lagi mo baca chicklit. It’s not fair dunk ah ![]()
TAPI, gw barusan baca chicklit yang ternyata OK banget. Dan menyadarkan gw, kalau chicklit tidaklah pantas dihina dina sebegitu rupa, dianggap karya sastra kelas dua, yang tidak berkelas. Yaitu, The EX Files-nya Jane Moore.
Okelah, cerita-nya pastilah klise. Tentang seorang cewek yang mengira ia sudah melakukan hal yang tepat dengan menikahi pacarnya sekarang. Mengira ia mencintai cowok itu seperti halnya cowok itu mencintainya. Padahal sebenarnya dia nggak mencintainya, cowok itu. Bukan cinta yang seperti ‘itu’ yang ia rasakan. He’s not the one, actually.
Kejutannya ada di bagian belakang. Hampir-hampir mendekati ending. Yang membuat gw jadi sadar kalau pengarangnya sangat cerdas. Dia menciptakan karakter-karakter dalam novel ini begitu wajar. Terasa sangat real-life.
Seorang teman pernah berkata sama gw, kalau menurut dia, artist atau seniman, adalah orang-orang yang sangat peka. Ini meliputi semua orang yang kreatif, artistik, dan selalu menggunakan otak kanannya untuk berpikir ;). Pelukis, penulis, pembuat film, pemahat, fotografer etc. Mereka tahu persis, macam-macam karakter manusia dan permasalahan antarnya. Karena itulah mereka bisa membuat sebuah karya yang begitu menakjubkan. Yang terasa begitu real. Seperti lukisan yang begitu menyentuh kalbu. Atau buku yang sangat bagus. Film yang begitu memorable, foto yang sangat menakjubkan dan seterusnya.
Begitu pula penulis chicklit ini. Dia nggak akan bisa menulis sebuah cerita bagus tanpa tahu karakteristik manusia. Hingga yang terdalam. Well, bahkan, saking real-nya, kadang gw merasa kalau para penulis itu sebenarnya adalah seorang psikolog yang jebolan jurusan sastra =).
Mungkin cerita chicklit dangkal dan mudah tertebak. Tapi, coba lihat deh, bagaimana penggambaran karakternya? Konsisten nggak? Terasa wajar nggak? Juga, alur ceritanya. Pesan moralnya. Endingnya yang OK. Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun sebuah chicklit yang bagus. Tidak mudah juga lho, menyusun sesuatu yang sederhana agar menjadi bomba tapi tetap o-k-a-y. Dan chicklit yang satu ini, sudah membuktikannya. Bahwa dia bukan karya kelas dua ^ ^
PS: Buat tante, adegan-adegan you-know-what-nya nggak terlalu banyak, bo. Jadi, jangan berharap banyak, ok
hihihi =))
PPS: The EX-Files. Dilihat dari judulnya, mungkin pembaca bakalan ngira akhirnya si cewek ini instead meneruskan menikah dengan cowok-he’s-not-the-one-nya dia justru akan balik dengan mantannya, gitu kan. Tapi ternyata, nggak tuh. See, chicklit nggak dangkal-dangkal amat kok. Kadang ada kejutannya juga lohh. Karena ternyata, cewek ini akhirnya jadiannya sama k*** eh, sensor ya. Spoiler alert! Spoiler alert! Tidak baik merusak kesenangan yang mungkin belum baca, yang mo menikmatinya tanpa ada orang crewet ngasih tau endingnya..
January 27th, 2007 at 1:28 pm
apa itu realitas?saat kehidupan nyata telah tercemari hiperrealitas tontonan..kehidupan di jalanan sudah menjadi panggung sandiwara..dan orang orang yang berjalan membutuhkan aktualisasi seperti di layar perak..begitulah masyarakat massa sudah kehilangan arti realitasnya sendiri ..kehampaan merupakan kata yang lebih tepat..makanya
chiklit teenlit blogging(apapun kemasannya..), reality show termasuk religiusitas(santri keren dst..), zen.., yoga an so on..sebagai penggambaran yang dekat dengan realitas menjadi tontonan yang katamu inspiring..blablabla..
tapi semua itu adalah olah alih zaman dan budaya yang tidak bisa langsung dicela begitu saja..ada khalayak yang tidak berdaya…seni(tinggi,pop,tradisi)- termasuk dari produksi industri- merupakan cerminan zaman dan kebudayaan yang bergulir mencari bentuknya yang baru..makanya kalo chiklkit dianggap kurang berbobot si itu kritik nya siapa dulu..apakah dari sang seniman yang katanya memegang otoiritas tertinggi tentang definisi keindahan(standar estetik dst..)?karena banyak orang (khalayak)pengkonsumsinya menganggap chiklit sebagai pemberi kesenangan nyata,,sama kaya nontonfilm pop atau musik pop..
(teruslah hear,taste,and see everything..hehe..)sip!aku nginthil nang mburimu..pareng..
okiedipurwoko-subursantoso-jan 07
January 27th, 2007 at 5:42 pm
Hya.. keren bener kommennya. Mana bisa di-ece Pak Subs. Gw komen balik juga susah.
Anyway, bener ya, realitas sudah tercemari hiperrealitas? Kukira cuma aku yang drama queen banged (miss bomba bo).
Jadi..mungkin kisahkasih ‘kitakita’ dijadiin sinetron aja yuks. Itu kan realita yang hiper banget ga seh. Ada tuker pasangan, ada ketemu soul-mate, ada pertengkaran ada persahabatan abadi.
Eh, itu realitas bukan sih. Kok kayanya bomba banget. Realita yang tidak seperti realita..
On the other hand, banyak karya yang amat realis, melebihi realita itu sendiri..
Ah bingung deh..
January 28th, 2007 at 3:13 am
hahaha..
dasar miss bomba..
sinetron??boleh siapa takut…??!!wah komen baliknya sungguh sederhana tapi dahsyat..penuh retorika dan pesan serta tanda penanda yang tersembunyi..sungguh gawat bila dicermati..menusukkkk!!sialan!!!
on the otherhand..thereby..in addition..kowe mesti lagi maca jurnal!!..ada lagi kata menarik.. congegrated and mingled..bcampur adug(pake g)
jadi kesimpulannya realitas memang sudah bercampur adug dengan mimpi mimpi hiperealitas..bahkan terkadang mimpi adalah hal yang paling realis saat ini..utopiarelismo..absurditorealismo..ah mbuh..kata kata baru ni..harus segera dibikin blognya tu
hahaha…
c..u..
(NB.wha?!!what a coinsident!perhatikan tanggal dan jamnya)piss
January 30th, 2007 at 7:40 pm
Hya? Speaking Indonesia please.. haha ^ ^
Belum bisa komen balik lagi deh. Harus mencerna kata-kata sampean dulu.. =)