Dont Worry Be Happy
Life 3 Comments »Hahahahihihihehehehohoho
I luv my life!
^ ^
(Gini nih kalo lagi happy. Kalo lagi BT aja postingnya bakal byk cursing, keluhkesah dll :p)
Hahahahihihihehehehohoho
I luv my life!
^ ^
(Gini nih kalo lagi happy. Kalo lagi BT aja postingnya bakal byk cursing, keluhkesah dll :p)
Cara Diet Terhebat Abad Ini: Jatuh
Cinta
(Part One)
By: Swahesti PR
Starring:
Arimbi,
cewek biasa umur 28 tahun, dengan karir yang belum luar biasa, wajah
biasa-biasa tapi kepribadian luar biasa, senyum luar biasa, dan talent menggoda
yang lebih luar biasa lagi.
Bimo, Don
Juan Kakap kelas Teri (pinjem istilah lo ya Bang ;))
Jun, cowok
biasa-biasa aja yang.. sumpah, segalanya biasa! Muka, badan, karir, keluarga,
kekayaan, iman, jalan hidup, nasib dan seterusnya. Saking biasanya sampai gw
males nulisnya. Terlalu biasa gitu loh.
Miss Pendiam, miss Cerewet, miss Ndut, dan selain miss-miss tadi ada juga beberapa Mas-mas, sebagai figuran
pelengkap cerita ini. Baik sebagai sahabat Arimbi maupun sekedar numpang lewat.
Nama mereka
nggak terlalu penting, makanya nggak gw deskripsikan lengkap. Buang-buang
waktu. Nggak bakal bikin menang undian juga. Ayo fokus ke yang lebih penting aja. Let the story begin..
Lo merasa endut? Merasa kurang kurus? Atau mo
gaya-gayaan aja diet karena takut dikira rakus, try this. Cobalah cara diet
tercepat dan termanjur-karenanya biar lebih singkat kita sebut aja:
terhebat-untuk menjadi lebih kurus, yaitu: jatuh cinta. Ruwet banget si
kalimatnya. Gw ulangi lagi ya. Cobalah cara diet terhebat (meliputi tercepat
dan termanjur!) untuk menjadi kurus: jatuh cinta!
Beneran. Nggak percaya? Yuks kita bahas one by one
metode-metode diet yang terkenal manjur..katanya.
Satu, South Beach Diet.
Tidak boleh ada
karbohidrat selama 2 minggu. Tapi setelah itu? Who knows? Jangan-jangan
malah jadi pemabuk karbo kambuhan? Oh no..
Dua, The So-Called French Diet.
Makan pelan-pelan. Tidak makan dengan menonton tivi atau membaca atau
apapun. Jalan kaki kemana pun. Mmm.. excuse
moi? Disini? Yang ada malah keringat bercucuran kepanasan, belum lagi
resiko ketabrak secara side walk tempat pejalan kaki seharusnya jalan
malah buat tempat jualan geto..
Tres bien! Haha.
Tiga, Diet Golongan Darah.
Satu kata. Rumit. Eh, rumit nggak sih? Hihi =D. Jujur, belum
pernah tau si. Kalo golongan darah A,
haloo..yang punya bukunya, gimana aturannya? Ceritain dunkk.. fufu :p.
Empat, Food Combining.
Helloo..yang bener aja,
masa sih harus menghindari nasi+ayam goreng selama hidup? Secara kita orang Indonesia gitu loh. Nasi anget+ayam goreng+lalapan+sambal terasi=O My
God banget nggak seh ;). Jadii.. yakin nih, mau nerapin food combining? Mm..gw mikir-mikir dulu deh Om.
^ ^
Lima, Puasa Total (ala model).
Dalam artian berhenti
makan. Kalau terpaksa, laper banget, makan madu barang satu atau dua sendok. Atau pake prinsip ala pepatah one apple a day
makes fat away (Cuma, dalam artian sebenarnya, sehari cuma makan SATU apel).
Dan misalnya kalau bener-bener
harus makan, habis itu buru-buru ke toilet untuk muntahin lagi.
Harus diakui, ukuran
baju nol memang menakjubkan. Tapi kalau otak jadi nol juga karena nggak pernah
dapet nutrisi, c’mon..
Enam, Puasa Nabi Daud
(sehari puasa sehari nggak).
Maab belum pernah coba,
jadi nggak bisa (& nggak berani :p) gw review =D.
Kesemua cara diet di
atas, teman, maupun yang lain-lain yang belum disebutin disini (The Zone,
Atkins Diet, etc), ada satu benang merahnya yaitu: tersiksa. Ya gimana nggak tersiksa orang namanya diatur,
dibatasin, ya pasti nggak enak. Kalau mau tau yang enak, coba deh baca terus ;).
Nah, cara diet terhebat abad ini (part one)
yang akan kita bahas this time sudah dibuktikan oleh Arimbi. Cewek 28 tahun, single
& mingle (gw sebenarnya ga terlalu paham artinya tapi karena tampaknya
semua chicklit Indonesia pake frase itu jadi gw kagak mau kalah, geto).
Arimbi, secara sebenarnya appearance-nya
biasa-biasa aja, banyak mengejutkan sahabat-sahabat tercinta dengan kisah
cintanya yang marveolus. Spektakuler.
“Pernah waktu itu dia pacaran sama dokter muda
ganteng pewaris rumah sakit mewah di Jakarta Selatan itu lohh,” cerita Miss
Cerewet, sambil pandangannya menerawang jauh. Jauhh..banget. Mungkin sekali
sampai ke Jakarta Selatan, hehe. Secara matanya sama tajam dengan teleskop!
“Eh, artis yang mirip banget Delon itu pernah juga kan. Siapa sih, finalis kontes gitu deh. Apa ya, Indonesian
Idol?” Lanjut Miss Ndut sambil ngabisin KitKat-nya.
“Indonesian Idol?, plis deh. KDI kalii Say.“
Sambung Mas Lukman alias Lulu. “Lagian tampangnya nggak mirip-mirip amat sama
Delon. Kalo Delman mah iya..hihihi.” Tambah Mas Lukman eh Lulu sambil dibonusi
ketawa Mak Lampirnya.
Lulu ini make-up artist yang lagi naik daun. Bukan,
bukan terkenal. Maksudnya job yang ia dapet melulu ngerias di pentas
teater, dan bukannya megang Cornelia Agatha atau Happy Salma gitu tapi
seringnya kebagian ngerias orang yang kebagian peran jadi pohon! Atau
apes-apesnya tiang listrik. Begitulah Lulu, make-up artist yang
spesialis merias orang jadi daun-daunan.
Kalau Miss Pendiam, gimana pendapat dia tentang
kisah-kasih Arimbi yang menghebohkan? Miss Pendiam diem aja, sibuk baca buku
sambil tidur-tiduran di sofa. Namanya juga pendiam gitu lohh.
Arimbi, muncul dari kamar mandi, berkimono dan rambut
berbalut handuk bak sorban di kepalanya. Ceria, ia bertanya, “Lagi pada
ngomongin apa Guys?”
Semua serentak memandangnya dan menjawab “ENGGAK…”.
Lalu berbalik dan kembali sibuk menekuni aktifitas sebelumnya. Sebelum bergosip
tentang Arimbi.
Arimbi pun cuek aja, melanjutkan rutinitas setelah
mandinya. Pake roll on, body lotion, segala krim-krim muka sampai
pake baju. Ya betul, di depan mereka semua, termasuk Lulu. Jangan khawatir
pembaca, gw tau ini bulan puasa, tapi tenang aja, ini bukan cerita bokep,
secara Lulu sebenernya bisa diitung muhrimnya Arimbi, hehe, karena kayaknya dia
nggak punya setitikpun hormon testosteron dalam tubuhnya. Buktinya, nggak napsu
sama sekali liat perempuan. Lekong melulu yang dipikirin. Hihi.
Arimbi membuka pintu lemari pakaiannya. Tapi yang ini
lemari biasa-biasa aja, nggak tembus ke Narnia atau negara fiktif lainnya. Tembus-tembus
paling ke apartemen sebelah. Malah yang ada bisa-bisa diomelin tetangga. Nggak seru
banget.
Anyway,
Arimbi pun memilih celana capri putih dan t-shirt putih juga. Sebelum
pake, secara dia cuma pake undies, tentu saja keadaannya jadi all-you-can-see
banget. Terbukti, tau-tau Lulu berkomentar,
“Bi, Lo gemukan ya?”
Satu kalimat simpel, tapi efeknya melebihi ledakan C4
yang dijatuhin di Sudirman dari sebuah chopper misterius.
Arimbi panik dan pucat. The rest of the girls juga
memekik. Lulu
latah, ikut memekik. Cuma, dia latahnya seringkali porno gitu deh. Jadi maap
saja tidak layak untuk tayang disini.
“Masa sih Lu?“ Tanya Bi (biar
singkat, nulis Arimbi kepanjangan ah) sambil bercermin.
Apa yang Bi liat di
cermin? Bukan, bukan lipatan ndut tak diinginkan di lengan, paha, ato perut.
Tapi tetep Bi yang biasa. Sosok tinggi
semampai yang langsing. Bukan semeter tak sampai lah ya. Tinggi Bi 170. Berat
tadi pagi 58. Eh, what?! 58?
“Hah, berat lo 58 Bi? Gila. Makan apa aja lo.” Miss
Cerewet.
“Ah, nggak keliatan kok
Bi.” Miss Pendiam yang cederung selalu
ngomong positif.
“Eh tolong dong nggak keliatan, plis deh. Secara itu
lemak udah ngantor dimana-mana bo.” Lulu pastinya.
“Baru 58 Bi.” Miss Ndut, kali ini dengan Potato
Chips-nya.
Yuk, tanya pendapat Bi sendiri. Yang biasanya jujur
dengan diri sendiri. Jangan terlalu percaya masukan dari mulut-mulut silet
gerwani-gerwani masa kini itu hoho.
Bi berusaha obyektif. Tiga
kilo bo, pada ngantor dimana ya. Dan memang, walau sangat samar, tapi perutnya
kelihatan lebih ndut. Pahanya juga ya? Dadanya..wah, kalo larinya ke dada si
malah kebetulan banget bo haha. Bi
memang lagi pengen banget punya dangerous cleavage yang dasyat. Iri
ngeliat tampilan Miss Pendiam dalam wonder bra-nya yang Ok banget.
Tapii, kalau di perut
dan paha emang bahaya banget. Dicobanya
celana capri putihnya tadi. Ups, kok sulit gini ya, masuknya. Coba gw
kancingin. Hemphh..duh, harus kecilin perut dulu. O My God, I’m doomed!!!
Maka, sejak pagi yang
(dirasa) mendung itu, Bi pun mulai berdiet. Tanpa sadar. Dengan cara: jatuh
cinta.
Besoknya
“….“ Ponsel Bi bergetar.
“Ya, Lu? Whats up honey.”
“Bi, Lo dimana?”
“Citos, babe.”
“With who, Darling?”
“Me, myself, & my ice cream.”
“What? Sendirian?! Pake mabok-mabokan es krim lagi?! Hang on there babe, Lulu to the rescue! Gw nyusul secepat busway gw bisa! Don’t
move. Don’t even touch your spoon again. Awas kalo lo makan lagi.”
Bi cuma ketawa. Dan melanjutkan makan es krimnya. Menjilat sendok es
krimnya pelan-pelan, menikmati. Sambil
agak-agak merenung gitu. Mungkin Bi nggak tahu mm.. tunggu, kayaknya
kemungkinan besar dia tahu sih, bahwa pose-nya saat ini justru terlihat Ok
banget. Cewek seksi berwajah melankolis yang duduk sendiri di café, sambil
melamun. Laki-laki mana yang nggak pengen jadi es krimnya eh pengen nemenin
duduk maksudnya bo =D.
Lepas dari pasang aksi
seksi, Bi memang benar-benar melamun. Melamunkan Bimo.
Bi, sebenernya bukan seorang player. Cuma dia
belum nemu laki-laki yang this-is-the-one-nya aja. Namanya juga nggak
cocok, jadi, wajar dong kalo Bi gonta-ganti cowok secepat Lulu ganti pembalut
eh salah haha.
Menu of the week kali ini, adalah Bimo. Eksekutif muda, ganteng, tapi keliatan banget gaya playboy kampung-nya. Norak. Kalo Lulu bilang,
playboy cap Gajah, kayak minyak kayu putih. Bisanya cuma buat ngangetin
doang, kagak sampai panas. Hehe.
Sebelum Bimo, ada Yudi, Ula, Dewa, Dana, Bisma, dan
seterusnya dan seterusnya cape deh nulisnya. Itu baru bulan ini bo.
Jadi, gimana sih ceritanya, kenapa cowok-cowok itu
cuma numpang lewat aja di hati Bi? Masa si ga ada yang bisa lempar sauh (sumpah
jadul banget istilahnya hihi).
Lets take Bimo for example.
Bimo, di kencan pertama
mereka udah langsung bawain Bi bunga. Mawar
merah. Kesalahan pertama. Bunga di kencan pertama? Terlalu cepat.
Plis deh. Mawar merah apalagi. It shows that Bimo nggak ngerti arti bunga itu sendiri. Red
rose itu sakral banget bo. Lah ini, kenal juga baru, udah ngasih mawar
merah. Penghinaan. Terhadap simbol mawar merah itu maksudnya. Kalo ngasihnya
bunga deposito malah nggak terlalu menghina. Paling nggak lo bisa nampar tu
cowok terus pergi, tapi jangan lupa sertifikat deposito-nya dibawa sebagai
pelipur lara.
Kesalahan kedua, Bimo nggak berhenti memuji Bi. Dari
matanya (you have such a wonderful eyes Bi. I wish I could swim there
forever). Yaiks, badan sekekar Ade Rai gitu, pake mo renang di mata gw?
Batin Bi ketakutan.
Bimo juga memuji badan Bi, selera bajunya, wangi
parfumnya, cara makannya yang menggemaskan (dipotong-potong kecil dulu semua,
baru dimakan-biasa aja sih menurut Bi. Tapi mungkin bagi Bimo memang
menggemaskan secara Bimo kalo makan ga pake dipotong, langsung ditelen, lagi
hoho).
Pokoknya, singkat kata, gombal di atas terpal sampai membal
juga nggak bakal kekal (terjemahan bebas: bisa nggak seh lo diem bentar Bim?
Hehe).
Dan berbagai hal-hal kecil lainnya, yang sebenarnya
nggak penting tapi vital banget. Loh gimana sih. Ya maksudnya yang nggak
penting tapi terasa mengganggu sebenarnya.
Tapi, ada lagi satu hal
yang amat sangat mengganggu. Ego Bimo. Ego-nya yang lebih besar dari gunung.
Ego-nya begitu terasa melingkupi Bimo, melayang-layang di udara bagai aura yang
tak kan pernah lepas dari si pemilik. Bi sampai merasa tercekik. Sesak nafas,
tercekik oleh ego laki-laki itu.
Semua hal dari diri Bimo
mengatakan seberapa besar ego-nya. Kepercayaan dirinya yang luar biasa,
keangkuhannya, pandangan-pandangan hidupnya yang cenderung narsis dan chauvinis
dari ujung kepala sampai betis (artinya jempol kakinya nggak ikutan narsis. Well, at least, belum), belum lagi jiwa patriarki-nya yang memandang wanita sebagai
perhiasan dan pelayan belaka, bukan teman sejiwa.
Bimo, Bimo. Hari gini gitu loh. Ke laut aja deh. Atau
gunung. Lembah. Jurang. Gurun. Terserah lo Bim. Ok.
Itu baru Bimo. Belum lagi cerita tentang Yudi, Ula,
Dewa, Dana, Bisma, dan seterusnya dan seterusnya cape deh nulisnya. Itu baru bulan ini bo.
“…” Ponsel Bi bergetar lagi.
Dilihatnya layar, Bimo. Ah males, paling-paling ngancem
bunuh diri lagi. Bosen tau Bim. Nggak
kreatip inovatip. Dibiarkannya ponsel itu terus bergetar..
Sekali lagi ingatannya melayang. Gara-gara Bimo nih
gw jadi rada ndut gini. Bi memang cewek yang extraordinary. Kenapa,
karena dia nggak jaim. Bi sangat apa adanya. Termasuk dalam hal makanan. Kalau
suka, ya dimakan. Kalau suka dan laper banget, ya diabisin.
“Bi, laper banget ya?” Tanya Bimo ketika Arimbi
selesai menyuapkan nasi uduk dan potongan ayam goreng terakhir ke mulutnya.
”Iya, emang kenapa Mo.” Jawab Arimbi, masih nggak ngeh. Masih terlena dalam
surga dunia yang bernama nasi uduk.
“Nggak, biasanya cewek kalau makan nggak pernah
diabisin.” Jawab Bimo tenang, sambil menyulut rokok.
Arimbi kontan berhenti
mengunyah. Susah payah ia telan makanan yang masih tersisa.
“Terus, emang kenapa Mo,
gw rakus,gitu?“
Bimo tertawa kecil.
“Ya nggak gitu Hon. Cuma aneh aja kalau ngeliat cewek
yang makannya abis. Kamu nggak takut ndut ya?“ Sambil kembali menghembuskan
asap rokok. Yang terbawa angin ke muka Arimbi.
“Nggak, gw nggak takut. Bang, satu porsi lagi!”
Teriak Arimbi sambil melambaikan tangan memanggil si Abang uduk.
Bimo terlihat kaget tapi lalu tertawa.
Arimbi tidak tertawa. Ia melihat piring Bimo. Licin
tandas. Dua porsi nasi, ayam goreng masih ditambah tahu tempe, lagi. Juga badan segede gaban. Dan bisa-bisanya
Bimo ngomong tentang bagaimana-seharusnya-seorang-perempuan-makan-sedikit.
Sejak itu, tiap pergi dengan Bimo, Arimbi seperti
kesetanan. Makan selalu 2 porsi. Walau seringnya kalau Bimo nggak liat, bakalan
dia buang sebagian makanan ke mana saja. Di balik serbet. Ke bawah meja (ugh
jorok). Atau ke piring Bimo? Haha. Hasilnya, naiklah 3 kilo.
Sahabat-sahabatnya nggak tahu, bagaimana perilakunya
kalau pergi dengan Bimo. Mereka bahkan mengira Bi bahagia.
“Duh, yang beratnya naik. Bahagia sejahtera ya bo.”
Miss Cerewet.
“Susu-nya cocok ni” Lulu. Sambil berkedap-kedip
genit.
“Lu, mata lo bintitan?” Miss Pendiam.
“Whahaha” Arimbi, hanya tertawa ngakak.
Itu, dulu. Dulu banget. Tepatnya..minggu
lalu. Sekarang Bimo tinggal sejarah. Jadwal nge-date baru sudah di PDA.
Namanya Jun. Cowok manis yang papasan di lift kantor kemarin. Bi sudah
sering melihat Jun sebenarnya, tapi cuek aja. Cuma..kenapa kemarin waktu di lift
Jun keliatan beda ya? Apa karena senyumnya? Ah, nggak juga. Biasa aja. Wangi after
shave-nya? Biasa juga. Suaranya yang ramah? Biasa. Gaya kenalannya yang
malu-malu? Bukan, bukan juga. Sikapnya yang santai? Nop. Terus apa ya..perasaan
semua hal tentang Jun biasa-biasa saja.
Bi terhenyak.
Jangan-jangan..itu! Justru karena biasa-biasa saja, Jun menjadi..begitu luar
biasa.
Semua kesederhanaan itu,
entah mengapa, bagi Bi..tampak begitu menakjubkan.
Minggu pagi (Brunch).
Bi tiba-tiba membuka
matanya. Hari apa ini? Minggu pagi. Ia
berbalik melihat jam weker di nakas. Ralat, ternyata minggu siang. Ada apa ya,
kayaknya ada sesuatu yang menyenangkan. Tiba-tiba Bi ingat, kencannya dengan
Jun tadi malam. Dan ia tersenyum lebar. Lama.
Jun.
Bi memejamkan matanya. Ada Jun disana.
Dibukanya inbox ponselnya.
Ada sms
dari Jun tadi pagi.
From: <Jun>
<08***********>
Receive: 4:48 AM
Pagi Bi. Udah bangun? Habis Subuhan ni. Terus mikirin kamu, mikirin kamu
terus.
Luv,
Jun.
Dibalasnya sms Jun.
To : <Jun>
<08***********>
Sent:11:10 AM
Sama! :P.
“…“
Jun langsung membalas! Bi tidak sabar membuka message dari Jun itu.
From: <Jun>
<08***********>
Receive:11:11 AM
Beneran? It’s an honour Bi. Seneng banget dengernya
:).
Luv,
Jun.
To : <Jun>
<08***********>
Sent: 11:13 AM
Luv ya too!!!! :p :p
From: <Jun>
<08***********>
Receive: 11:14 AM
To : <Jun>
<08***********>
Sent: 11:14 AM
Ketemuan yukkkk. Miss ya
already :p :p
From: <Jun>
<08***********>
Receive: 11:14 AM
Boleh. Now?
To : <Jun>
<08***********>
Sent: 11:15 AM
Boleh. Can you fly here, Jun?
From: <Jun>
<08***********>
Receive: 11:15 AM
I did, Bi. Would u open ur door now?
“Ting tong”
Bi terlonjak kaget di
tempat tidurnya. Hah? Yang bener aja, Jun udah di sini? Sial, mana gw belum
cuci muka lagi. Bi lari ke kamar mandi, menyikat gigi dan cuci muka. Dan
menyisir rambut seadanya.
From: <Jun>
<08***********>
Receive: 11:17 AM
Hello..anybody home?
Bi makin panik. Ia lari ke depan, mengintip lewat
lubang pintu dan..benar, it’s him!
Dibukanya pintu.
“Hai Jun.”
“Halo Bi.”
Bi tertawa gugup. “Gila ya lo, Jun?”
Jun sebaliknya, tertawa santai. “Iya, gw emang gila. Tergila-gila
sama lo, Bi.“
Bi masih tertawa gugup
dan mengejek Jun. “Hahaha, jadul bener istilah lo.“
Tapi coba deh liat,
senyum Bi tidak bisa lepas dari bibir indahnya.
Ternyata, minggu pagi
ehm maaf minggu siang itu, Jun mampir membawakan bubur ayam favorit Bi. Yang Bi ceritain tadi malam.
“Jadi, lo inget, Jun?”
“Ya ingetlah. Dimakan yuk, Bi”
“Ayo..”
Dear
pembaca, apa menurut lo Bi bisa makan bubur ayamnya dengan tenang? Jelas nggak.
Akhirnya yang Bi lakukan cuma memutar-mutar sendoknya di mangkuk buburnya.
Buburnya tetap di mangkok, tidak ada yang masuk ke mulutnya. Bi nggak bisa
makan. Perutnya mual dan mendadak kenyang. Melihat Jun, nafsu makannya
menghilang.
“Kriuk..”
Mendadak terdengar bunyi
perut Bi, cukup keras. Mereka berdua berpandangan dan tertawa.
“Ayo dong dimakan, Bi. Perut lo udah protes tuh.”
“Oke Bos.” Jawab Bi, sambil menyendok bubur. Tapi
tetap, hanya sedikit yang mampu ia telan. Dua suap saja. Kebahagiaan menyumbat
perutnya. Naik hingga tenggorokan, menolak semua makanan.
Jun, hanya Jun yang boleh masuk. Senyumnya,
perhatiannya, kejutan-kejutan kecil Jun yang menyenangkan, mengalir lembut
dihati Bi. Terasa hangat dan
menyenangkan. Oh ya, ada satu lagi selain makanan yang boleh masuk, yang jelas nggak
akan ditolak Bi, bibir Jun ;). Jadilah siang itu mereka pun sibuk..CUT! (lagi puasa inget, inget
hehe :p)
Minggu Malam.
“Bi, makan bareng yuk.“
“Ayo.“
“Mau makan dimana?“
“Terserah Jun aja deh.“
“Kamu sukanya apa?“
“Apa aja suka.“
“Bener?“
“Iya.“
“Ikan, mau?“
“Mau.“
“Oke, makan Sup Kepala Ikan
di Pasar Minggu yuk.“
“Ayuks.“
Eh, tunggu-tunggu, apa
tadi Jun bilang? Sup Kepala Ikan? O My God. Yang bener aja!!! Ikan kan creepy
banget. Bi cuma mau makan fillet
ikan. Itu pun jarang. Setahun sekali boleh deh. Lah ini, malah kepala ikan??!! Bagian
paling creepy dari ikan. Selain sisiknya tentu saja. Uhh. Gila aja. Semoga
gw nggak muntah nanti. Batin Bi, panik luar biasa.
Jun yang tengah menyetir, menoleh ke arahnya dan
tersenyum. Bi pun membalas senyumnya dan seketika hatinya meleleh. Makan cacing
kalau sama Jun-pun bakal gw lakuin, kata Bi dalam hati.
Sampai di Pasar Minggu, baru satu suap Bi pura-pura
kebelet, ke toilet. Di sana,
dia muntah sampai lemas..
Senin Pagi
Di kantor, hari ini, kerjaan
luar biasa numpuk. Mau nggak mau Bi harus lembur sore ini. Tiba-tiba,
From: <Jun>
<08***********>
Receive:10:35 AM
Nanti nonton yuk Bi. Gw jemput pulang kantor ya.
Maka, Bi nggak istirahat
siang itu. Jam makan siang ia pakai untuk ngebut menyelesaikan kerjaannya..
Begitulah kehidupan Bi
sekarang. Hanya Jun yang ada dikepalanya. Jun and only Jun.
Hari-harinya hanya diisi oleh Jun. Sampai ketika,
Pulang kantor di suatu
hari Kamis.
“…“ Miss Cerewet.
“Hai hon.”
“Halo Bi. Pulang kantor
ngapain, fitnes yuks. Lama banget deh lo
nggak ikutan fitnes bareng kita. Pacaran terus sih.”
“Hehehe.”
“Ketawa, lagi. Gimana, bisa nggak lo.“
“Bisa, bisa. Jun lagi keluar kota 3 hari ini.“
“Halah, pantesan. Ya udah, ntar gw jemput ya.”
“Ok hon.“
“Eh eh tunggu Bi, lo dapet salam tuh.“
“Dari?”
“Dari Bang Nofri.”
“Nofri?”
“Ya ampun, Bang Nofri personal trainer-nya
Agnes Monica tu loh. Yang dari dulu kita kecengin mulu.”
“Oh, that Nofri.”
“Iya. Salam balik nggak? Dia nanyain lo tuh. Sumpah!”
“Mm..not this time-lah.”
“What?! Lo gila ya Bi? O My God. Pasti
lo udah dicuci otak sama si Jun itu. Nanti kita ketemu lo harus gw cuci balik.
Biar nggak cuma Jun aja yang lo liat. Masih banyak pasir di lautan, babe,
masih banyak cowok di dunia. Kalau lo cuma fokus ke Jun, rugi kalee.”
“Gw tunggu lo di kantor gw ntar ya.”
Klik.
“Eh tunggu! Bi, Bi! Sialan, telpon gw ditutup?! Ah Arimbi kena peletnya
si Jun nih, pasti. Awas ya..“
Pulang kantor di hari Jumatnya.
“….“ Miss Pendiam
rupanya.
“Halo Sweety.“
“Bi, pulang kantor ngapain?”
“Belum ada rencana. Pengennya pulang terus tidur sih
sebenernya. Capek banget nih.”
“Idih, ngapain pulang cepet-cepet. Nyalon aja yuks.”
“Boleh-boleh. Kebetulan lama nggak nyalon ni.”
“Ya udah, ntar lo jemput gw ya.”
“Ye, kirain gw tinggal nunggu dijemput.“
“Hehe, sori sori, mobil gw di bengkel, biasa, check-up
rutin.”
“Ok, ntar gw jemput. See ya then sweety.”
“Ok lav.”
Lalu Sabtu paginya.
“….” Si Lulu Lincah Lemah Lemulai menelpon.
“Halo Lu.”
“Bi! Lagi ngapain?”
“Nonton tivi bo.”
“Aih dasar pemalas lo. Ikut gw yuk bo. Temenin ik.”
“Kemana?”
“Ke Mayestik. Atau Pasar Baru. Atau dua-duanya.”
“Ngapain Lu?”
“Ada project
ni. Bikin seragam buat dancer-dancer gw. Tapi harus hari ini. ayo dong
temenin gw. Eh, ntar gw beliin lo tile Prancis yang lo pengen banget itu deh.”
“Asikkk. Beneran ni.”
“Iya, tapi setengah meter aja.”
“Ye, setengah meter buat apaan. Sapu tangan? Enak aja
lo!“
“Becanda, Bi, becanda. Udah deh, lo temenin gw, lo
minta apa aja gw beliin!”
“Asikk. Gitu dong Lu. Oke gw siap-siap dulu.”
“(bergumam) Dasar temen matre..”
“Lo ngomong apa Lu?”
“Hah, nggak. Udah Bi, gw jemput setengah jam lagi, lo
nunggu di jalan ya. Ok.”
Klik.
Di Pasar Baru dan Mayestik, mereka berdua
keliling-keliling dan belanja-belanji sampai lemes abis. Jam 4 sore baru take
a break, pergi lunch yang sudah sangat terlambat. Baru tiga suap,
ada sms masuk ke ponsel Bi.
“….”
From: <Jun>
<08***********>
Receive:16:05 PM
Lg ngapain Bi?Gw cm bs
mikirin lo trs disini. Balik Jkt 2nite, can’t wait 2cu Bi. Bsk srpn brng yuk.
Luv,
Jun.
Cukup satu sms, dan hati
Bi langsung berseri-seri. Perutnya mendadak kenyang. Dia yang tadinya lemes,
serasa mendapat doping energi tak kasat mata yang luar biasa.
“Lu, muter lagi yuk, gw
pengen beli satin di toko yang di ujung sana tadi!“
Lulu hanya bisa bengong
dengan mulut penuh melihat semangat Arimbi..
Tiga minggu berlalu sejak
Arimbi ketauan endutnya
Arimbi, cewek 28 tahun, single
& mingle (gw sebenarnya ga terlalu paham artinya tapi karena tampaknya
semua chicklit Indonesia pake frase itu jadi gw kagak mau kalah, geto).
Arimbi, secara
sebenarnya appearance-nya biasa-biasa aja, banyak mengejutkan
sahabat-sahabat tercinta dengan kisah cintanya yang marveolus.
Spektakuler.
“Pernah waktu itu dia
pacaran sama dokter muda ganteng pewaris rumah sakit mewah di Jakarta Selatan
itu loh,“ cerita Miss Cerewet, sambil pandangannya menerawang jauh. Jauhh..banget.
Mungkin sekali sampai ke Jakarta Selatan, hehe. Secara matanya sama tajam
dengan teleskop!
“Eh, artis yang mirip
banget Delon itu pernah juga kan. Siapa sih, finalis kontes gitu deh. Apa ya,
Indonesian Idol?” Lanjut Miss Ndut sambil
ngabisin KitKat-nya.
“Indonesian Idol, plis deh. KDI kalee say.“ Sambung
Mas Lukman alias Lulu. “Lagian tampangnya nggak mirip-mirip amat sama Delon.
Kalo Delman mah iya..hihihi.” Tambah Mas Lukman eh Lulu sambil dibonusi ketawa
Mak Lampirnya.
Lulu ini make-up artist yang lagi naik daun.
Bukan, bukan terkenal. Maksudnya job yang ia dapet melulu ngerias di
pentas teater, dan bukannya megang Cornelia Agatha atau Happy Salma gitu tapi
seringnya kebagian ngerias orang yang kebagian peran jadi pohon! Atau
apes-apesnya tiang listrik. Begitulah Lulu, make-up artist yang
spesialis merias orang jadi daun-daunan.
“Tapi itu semua masa lalu, honey. Lo semua
tahu sekarang, Bi tergila-gila pada Jun. Jun and only
Jun. Player kita tampaknya akhirnya takluk di tangan seorang lekong
biasa, bukan dokter maupun artis.” Ratap Lulu.
Kalau Miss Pendiam, gimana pendapat dia tentang
kisah-kasih Arimbi yang menghebohkan? Miss Pendiam diem aja, sibuk baca buku
sambil tidur-tiduran di sofa. Namanya juga pendiam gitu lohh.
Arimbi lalu muncul dari kamar mandi, berkimono dan
rambut berbalut handuk bak sorban dikepalanya. Ceria, ia bertanya, “Lagi pada
ngomongin apa Guys?”
Semua serentak memandangnya dan menjawab ‘ENGGAK…’. Lalu berbalik dan
kembali sibuk menekuni aktifitas sebelumnya. Sebelum bergosip tentang Arimbi.
Arimbi pun cuek aja,
melanjutkan rutinitas setelah mandinya. Pake
roll on, body lotion, segala krim-krim muka sampai pake baju. Ya
betul, di depan mereka semua, termasuk Lulu. Jangan khawatir pembaca, gw tau
ini bulan puasa, tenang aja, ini bukan cerita bokep, secara Lulu sebenernya
bisa diitung muhrimnya Arimbi, hehe, karena kayaknya dia nggak punya setitikpun
hormon testosteron dalam tubuhnya. Sama sekali nggak napsu liat perempuan sih.
Lekong melulu yang dipikirin. Hihi.
Arimbi membuka pintu lemari pakaiannya. Tapi yang ini
lemari biasa-biasa aja, nggak tembus ke Narnia atau negara fiktif lainnya. Tembus-tembus
paling ke apartemen sebelah. Paling banter juga diomelin tetangga. Nggak seru
banget.
Anyway,
Arimbi pun memilih celana capri putih dan t-shirt putih juga. Sebelum
pake, secara dia cuma pake undies, tentu saja keadaannya jadi all-you-can-see
banget. Terbukti, tau-tau Lulu berkomentar,
“Bi, gila, Lo kurus banget Say?!”
Satu kalimat simpel, tapi efeknya melebihi ledakan C4
yang dijatuhin di Sudirman dari sebuah chopper misterius.
Arimbi panik dan pucat. The rest of the girls juga
memekik. Lulu latah, ikut memekik. Cuma, dia latahnya seringkali porno gitu
deh. Jadi maap saja tidak layak untuk tayang disini.
“Masa sih Lu?“ Tanya Bi (biar singkat, nulis Arimbi
kepanjangan ah) sambil bercermin.
Apa yang Bi liat di cermin?
Bukan, bukan lipatan ndut tak diinginkan di lengan, paha, ato perut. Tapi tetep
Bi yang biasa. Sosok tinggi semampai yang langsing. Bukan semeter tak sampai lah ya. Tinggi Bi 170. Berat
tadi pagi 52. Eh, what?! 52?
“Ha, berat Lo 52 Bi? Gila. Nggak pernah makan ya lo?”
Miss Cerewet.
“Ah, bagus kok Bi.” Miss Pendiam yang cederung selalu
ngomong positif.
“Eh tolong dong bagus, plis deh. Secara itu badan
kerempeng abis ga ada seksi-seksinya bo.” Lulu
pastinya.
“Lo sekurus model Bi.
Bahkan lebih kurus.” Miss Ndut, kali ini
dengan Potato Chips-nya.
Yuk, tanya pendapat Bi sendiri. Yang biasanya jujur dengan diri
sendiri. Jangan terlalu percaya masukan dari mulut-mulut silet gerwani-gerwani
masa kini itu hoho.
Bi berusaha obyektif. Enam
kilo, bagian mana aja yang lemaknya ilang ni. Dan memang, dengan jelas, perutnya
kelihatan sangat rata, bahkan cekung. Pahanya juga ya? Dadanya..wah, untung
dadanya nggak tambah kecil bo haha. Bi
memang lagi pengen banget punya dangerous cleavage yang dasyat. Iri
ngeliat tampilan Miss Pendiam dalam wonder bra-nya yang Ok banget.
Tapii, kalau lemak di perut dan paha lenyap gini, Ok
banget nggak sih. Dicobanya celana capri putihnya tadi. Ups, kegedean banget!
Coba gw kancingin. Hah, melorot?! O My God, baju-baju gw, berarti
kegedean semua?! I’m doomed!!!
Maka, di pagi yang (dirasa) mendung itu, Bi pun
mendadak ternyata menjadi langsing. Amat sangat langsing. Kurus, lebih
tepatnya. Apa rahasianya? Satu. Yah, dua kata sih sebenarnya. Jatuh cinta.
So, wanna try this deadly method, anyone? ;)
..
Makan pun tak enak
Tidurpun tiada nyenyak
..
Inikah oh namanya
Insan sedang jatuh cinta..
Mengapa, semua begitu indah dilihat
Begitu sedap dipandang
Seolah
Ku ingin slalu tersenyum
Tapi ah aku malu
Padamu
Aku malu, aku malu
..
Terinspirasi lagu diatas
gitu lohh
Minggu Siang 16
September 2007 4:37 PM,
(Ruang jiwa-ntah kenapa
tau tau kesurupan nulis ini-sambil atit plu parah-sambil bolak balik serve tamu
nursery sambil pusing berasa mo pingsan-sambil nunggu buka puasa yang kata Doto
enaknya ngaji sambil mkn gorengan+es jeruk)
Oh ya, buat kaum Adam,
plisss jangan jadi kayak Bimo ya, sumpe bikin sesak napas bo hehe :p.
Anyway, my dear readers,
apa
cara terhebat kedua selain jatuh cinta? Ada Deh! Nantikan di episode part two
dari Cara-Diet-Terhebat-Abad-Ini The
Series