Suatu Sabtu
Life October 27th, 2007Suatu Sabtu
-Swahesti PR-
Dia terdiam. Lama.
Asap rokoknya terus terbang
melayang. Begitu juga angannya. Terbang jauh lebihi semua. Melampaui segala yang
pernah ia bayangkan sebelumnya. Harus, ia harus mewujudkannya. Sekarang.
Hari itu, hari Sabtu.
Jakarta, 1960
Hari itu,
hari pertama ia bekerja. Di
Istana.
Ia dibawa berkeliling. Ke
ruang-ruang penting yang baginya sungguh menakjubkan. Dan ia tahu
sejarahnya. Tempat pemimpin-pemimpin paling hebat di dunia ini pernah berada.
Kepalanya
berputar kesana-kemari. Matanya terus mencari. Tapi dia tidak melihat dua sosok yang paling
dikaguminya. Bung Karno dan kalau beruntung, Hatta.
Ia tidak tahu, hari itu hari Sabtu.
Semua orang penting tidak bisa diganggu di akhir minggu.
Jakarta, 1970
Istrinya memaksa ia memakai celana
baru. Sebenarnya ia tidak merasa nyaman. Celana baru ini lebar sekali dimata
kakinya. Padahal ia terbiasa dengan model yang pas. Kata istrinya
ini model baru. Namanya celana elpis.
Ia
terpaksa mengalah, karena istrinya bilang mendingan mereka tidak jadi pergi
jika ia tidak pakai celana elpis itu. Apalah arti sebuah celana. Ia menurut.
Mereka
sekeluarga pun jadi pergi ke Anyer. Hari ini ia libur.
Hari Sabtu.
Jakarta,
1980
Hari
ini Uwa Karim meninggal. Istri keduanya menangis keras sekali di kuburan.
Orang-orang mencibir memandangnya. Terutama anak-anak istri pertamanya. Bunga
dari Pak Harto paling besar. Istri keduanya berfoto didepan bunga itu. Cibiran
orang-orang berganti menjadi komentar pedas.
Ia
tidak peduli. Ia merasa mungkin Uwa Karim justru lega sekarang. Bisa beristirahat.
Jauh dari omelan keluarganya yang tak berkesudahan.
Walau
ia sedih Uwa meninggal, tapi mulai hari itu, ia menggantikan Uwa Karim jadi
pengurus utama istana. Ia tidak terlalu sedih lagi.
Sabtu.
Jakarta,
1990
Rasanya ia sudah menjadi pengurus
rumah tangga istana seumur hidupnya. Dan Istana ini rasanya juga sudah kosong
seumur hidup. Sejak Pak Harto, tidak ada lagi yang tinggal disini. Ia
merindukan suara kehidupan nyata di Istana. Tangis bayi dan celoteh anak. Omelan
sayang seorang Ibu. Tidak ada.
Dari
Minggu sampai Sabtu.
Jakarta,
2000
Ia
pensiun tahun lalu. Padahal ia sempat berpikir tidak akan bisa merasakan hidup
di abad baru. Milenium
atau apalah kata mereka. Ia pikir kiamat datang 2 tahun lalu, saat Pak Harto
dipaksa turun. Ini mengerikan. Ia selalu ingat hari itu. Saat Istana
selalu dikepung. Ia pulang jalan kaki. Tidak ada kendaraan sama sekali. Dan ia
ketakutan setengah mati sepanjang jalan.
Ah, seandainya
saja ia sudah mewujudkan mimpinya dari dulu.
Di hari Sabtu itu.
Jakarta,
sekarang
Umurnya sudah tidak muda lagi. Tenaganya
hampir tidak ada. Tapi semangatnya terus membara. Berharap, ia terus berharap.
Ia tahu, ia harus memberanikan diri untuk mewujudkan mimpinya. Sebelum
mati. Karena hidup cuma sekali. Tidak ada yang namanya mati penasaran. Mati ya
mati. Mimpi-mimpi pun ikut mati. Harus, ia harus mewujudkannya.
Sekarang,
atau tidak sama sekali.
Maka,
ia pun memanggil cucunya. Berdua, mereka pergi ke lapangan bulutangkis di ujung
gang. Banyak orang
disana. Anak-anak kecil, remaja, para ibu. Semua memperhatikan mereka. Tapi ia
tidak perduli.
Cucunya mengajarinya naik motor. Pertama-tama
cucu yang diboncengnya masih sering memegang kendali. Lama kelamaan ia semakin
mahir. Ternyata tidak sulit. Ia memutari lapangan beberapa kali.
Sore itu, di sebuah lapangan
bulutangkis kecil di ujung sebuah gang kumuh, ada seorang kakek yang menaiki
motor bebeknya, memutari lapangan, pelan-pelan. Rambutnya yang memutih terlihat
bagai halo keajaiban. Seberkas sinar mentari senja melintas, membuat seri
wajahnya semakin tampak. Ia tersenyum. Dan bukan hanya itu. Jiwanya pun ikut
tersenyum.
Karena akhirnya, mimpinya terwujud
sudah.
Di suatu Sabtu.
Hari itu.
—————
Sabtu
27 Oktober 2007.
Sebuah
mimpi, sesederhana apapun, haruslah diwujudkan. Walau sebanyak apapun keringat, darah dan airmata yang diperlukan.
Demi sebuah mimpi. Iya kan
Dari The Alchemist-nya Coelho:
“…Sebelum sebuah mimpi terwujud,
Jiwa Buana menguji semua yang telah dipelajari di sepanjang perjalanan. Ia
melakukan hal ini bukan karena ia jahat, tapi supaya kita mampu—sebagai
tambahan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita–menguasai pelajaran-pelajaran yang
kita tekuni saat kita bergerak menuju mimpi itu. Itulah titik saat kebanyakan
orang menyerah. Itulah titik, seperti yang kami ucapkan dalam bahasa gurun,
orang mati kehausan ketika pohon-pohon Palem sudah terlihat di cakrawala…”
;)
(aduhh capek deh kedip2 terus hehe)
October 28th, 2007 at 1:26 am
“im tired of wastin time looking up at the wrong star..
i do believe in life that everything is written,
but life is not a book with pages wide open..
look into your self, the one and only look into yourself if you want to find the key..
look into yourself release your heart free,
look into yourself and be the master of your destiny”
jiwa buana,
Buana itu semesta .arti kata hamengkubuwana mempunyai maksud, yang menyandang nama tersebut mempunyai kewajiban untuk memangku seluruh alam , dan akhirnya menjadi wakil allah di muka bumi (dalam bhs mataram)-tanah jawi- ..yang menjadikannya khalifatullah ing tanah jawi..karena hamengkubuwana adalah perwakilan tuhan dalam dunia nyata.
jiwa buana
mungkin yang dimaksud paulo coelho adalah perwujudan atau manifestasi dari semua jiwa yang terkumpul menjadi satu di alam semesta ini..dan artinya kita adalah fragmen fragmen atau pecahan pecahan kecil dari jiwa buana tersebut.dan saat keinginan atau mimpi itu ada sesungguhnya kita tidak pernah tidak mewujudkannya. karena alam bawah sadar insan yang bersangkutan akan selalu menuju ke arah sana.termasuk keinginan para pendahulu mataram yang mentasbihkan dirinya sebagai pemangku alam semesta.yaitu menjaga keharmonisan dan keseimbangan baik dan buruk alam ini.
Dan selanjutnya bahwa mimpi adalah bahan bakar jiwa jiwa yang hidup.Maka tanpa mimpi orang tak lain hanya badan yang berjalan di muka bumi dengan repetisi yang monoton. dalam bahasa zaman posmodernis ini mereka adalah sang robot robot android,dalam bahasaku mereka adalah orang orang hidup yang telah mati sebelum raganya benar benar mati.
“jakarta, sekarang
Umurnya sudah tidak muda lagi. Tenaganya hampir tidak ada. Tapi semangatnya terus membara. Berharap, ia terus berharap. Ia tahu, ia harus memberanikan diri untuk mewujudkan mimpinya. Sebelum mati. Karena hidup cuma sekali. Tidak ada yang namanya mati penasaran. Mati ya mati. Mimpi-mimpi pun ikut mati. Harus, ia harus mewujudkannya.
Sekarang, atau tidak sama sekali.”
-sebuah revolusi hujan bulan oktober-
-withhonor-
tulisan ini dibuat made by order oleh presiden kitakita penguasa orde baru yang sudah mulai lalim (hehehe…)
oqedprwko-oktober07-thx for the unspoken words..regards
November 30th, 2007 at 10:57 pm
Segini lo bilang lalim??? You have no idea what you’re dealing with, Bung
Hehe.
November 30th, 2007 at 10:59 pm
^ ^
December 1st, 2007 at 7:02 pm
Ini aneh banget sih postingnya, kok jadi spasi-nya lebar2 banget