Suatu Sabtu
-Swahesti PR-

Dia terdiam. Lama.
Asap rokoknya terus terbang
melayang. Begitu juga angannya. Terbang jauh lebihi semua. Melampaui segala yang
pernah ia bayangkan sebelumnya. Harus, ia harus mewujudkannya. Sekarang.
Hari itu, hari Sabtu. 

 

Jakarta, 1960

Hari itu,
hari pertama ia bekerja.
Di
Istana.
Ia dibawa berkeliling. Ke
ruang-ruang p
enting yang baginya sungguh menakjubkan. Dan ia tahu
sejarahnya. Tempat pemimpin-pemimpin paling hebat di dunia ini pernah berada.
Kepalanya
berputar kesana-kemari. Matanya terus mencari.
Tapi dia tidak melihat dua sosok yang paling
dikaguminya. Bung Karno dan kalau beruntung, Hatta.
Ia tidak tahu, hari itu hari Sabtu.
Semua orang penting tidak bisa diganggu di akhir minggu. 

 

Jakarta, 1970

Istrinya memaksa ia memakai celana
baru. Sebenarnya ia tidak merasa nyaman. Celana baru ini lebar sekali dimata
kakinya.
Padahal ia terbiasa dengan model yang pas. Kata istrinya
ini model baru. Namanya celana elpis.
Ia
terpaksa mengalah, karena istrinya bilang mendingan mereka tidak jadi pergi
jika ia tidak pakai celana elpis itu. Apalah arti sebuah celana. Ia menurut.
Mereka
sekeluarga pun jadi pergi ke Anyer. Hari ini ia libur.
Hari Sabtu.


Jakarta,
1980
Hari
ini Uwa Karim meninggal. Istri keduanya menangis keras sekali di kuburan.
Orang-orang mencibir memandangnya. Terutama anak-anak istri pertamanya. Bunga
dari Pak Harto paling besar. Istri keduanya berfoto didepan bunga itu. Cibiran
orang-orang berganti menjadi komentar pedas.
Ia
tidak peduli. Ia merasa mungkin Uwa Karim justru lega sekarang. Bisa beristirahat.
Jauh dari omelan keluarganya yang tak berkesudahan.
Walau
ia sedih Uwa meninggal, tapi mulai hari itu, ia menggantikan Uwa Karim jadi
pengurus utama istana. Ia tidak terlalu sedih lagi.
Sabtu.

 
Jakarta,
1990
Rasanya ia sudah menjadi pengurus
rumah tangga istana seumur hidupnya. Dan Istana ini rasanya juga sudah kosong
seumur hidup. Sejak Pak Harto, tidak ada lagi yang tinggal disini. Ia
merindukan suara kehidupan nyata di Istana. Tangis bayi dan celoteh anak.
Omelan
sayang seorang Ibu. Tidak ada.
Dari
Minggu sampai Sabtu.

 

Jakarta,
2000
Ia
pensiun tahun lalu. Padahal ia sempat berpikir tidak akan bisa merasakan hidup
di abad baru.
Milenium
atau apalah kata mereka. Ia pikir kiamat datang 2 tahun lalu, saat Pak Harto
dipaksa turun.
Ini mengerikan. Ia selalu ingat hari itu. Saat Istana
selalu dikepung. Ia pulang jalan kaki. Tidak ada kendaraan sama sekali. Dan ia
ketakutan setengah mati sepanjang jalan.
Ah, seandainya
saja ia sudah mewujudkan mimpinya dari dulu.
Di hari Sabtu itu.

 

Jakarta,
sekarang
Umurnya sudah tidak muda lagi. Tenaganya
hampir tidak ada. Tapi semangatnya terus membara. Berharap, ia terus berharap.
Ia tahu, ia harus memberanikan diri untuk mewujudkan mimpinya.
Sebelum
mati. Karena hidup cuma sekali. Tidak ada yang namanya mati penasaran. Mati ya
mati. Mimpi-mimpi pun ikut mati. Harus, ia harus mewujudkannya.

Sekarang,
atau tidak sama sekali.

Maka,
ia pun memanggil cucunya. Berdua, mereka pergi ke lapangan bulutangkis di ujung
gang.
Banyak orang
disana. Anak-anak kecil, remaja, para ibu. Semua memperhatikan mereka. Tapi ia
tidak perduli.

Cucunya mengajarinya naik motor. Pertama-tama
cucu yang diboncengnya masih sering memegang kendali. Lama kelamaan ia semakin
mahir. Ternyata tidak sulit. Ia memutari lapangan beberapa kali.

Sore itu, di sebuah lapangan
bulutangkis kecil di ujung sebuah gang kumuh, ada seorang kakek yang menaiki
motor bebeknya, memutari lapangan, pelan-pelan. Rambutnya yang memutih terlihat
bagai halo keajaiban. Seberkas sinar mentari senja melintas, membuat seri
wajahnya semakin tampak. Ia tersenyum. Dan bukan hanya itu. Jiwanya pun ikut
tersenyum.

Karena akhirnya, mimpinya terwujud
sudah.

Di suatu Sabtu.
Hari itu.

—————

 
Sabtu
27 Oktober 2007.
Sebuah
mimpi, sesederhana apapun, haruslah diwujudkan. Walau sebanyak apapun keringat, darah dan airmata yang diperlukan.
Demi sebuah mimpi. Iya kan ;)

Dari The Alchemist-nya Coelho:
“…Sebelum sebuah mimpi terwujud,
Jiwa Buana menguji semua yang telah dipelajari di sepanjang perjalanan. Ia
melakukan hal ini bukan karena ia jahat, tapi supaya kita mampu—sebagai
tambahan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita–menguasai pelajaran-pelajaran yang
kita tekuni saat kita bergerak menuju mimpi itu. Itulah titik saat kebanyakan
orang menyerah. Itulah titik, seperti yang kami ucapkan dalam bahasa gurun,
orang mati kehausan ketika pohon-pohon Palem sudah terlihat di cakrawala…”

;) ;) ;)
(aduhh capek deh kedip2 terus hehe)