Do You Got One Too?
Life No Comments »”Brak!”
Terdengar gelegar pintu depan terbanting tertutup.
Lalu suara langkah kaki kecil berlari menaiki tangga dengan cepat.
Aku bangkit dari duduk. Jesse sudah pulang. Dan mungkin ia mengalami hari yang buruk. Kuhentikan kegiatanku lalu naik ke atas.
Aku mengetuk pintunya.
”Jes, boleh Granny masuk?”
Tidak ada jawaban dari dalam.
Kubuka pintunya pelan. Lalu melangkah masuk.
Dan disanalah ia, cucuku tersayang, tidur tertelungkup di atas tempat tidur. Masih dengan ransel dipunggung. Tangannya pun masih memegang tali botol minum. Botol minum bergambar Spiderman. Yang ia dulu merengek meminta. Mengancam tidak mau berangkat sekolah jika masih memakai botol minum lamanya.
Ku duduk di tepi tempat tidur dan mengelus kepala Jes.
Aku diam saja.
Jes juga. Walau aku tahu, dia menangis sebelumnya. Isakannya masih ada, lamat-lamat. Punggungnya masih tersengal-sengal seperti nafasnya.
Aku terus membelai rambutnya. Lama.
Lama-lama nafasnya mulai teratur. Kupikir Jes sudah tertidur ketika tiba-tiba ia berbalik dan duduk. Dilemparkannya botol minum Spiderman. Juga ranselnya. Wajah Jes sedih sekali. Aku tidak tega melihat malaikat kecilku sesedih ini. Air matanya masih bergulir, memperlihatkan bekas memanjang dipipi mungilnya yang halus. Satu tetes. Dan disusul tetes yang berikut. Kuhapus air matanya yang baru turun.
Dia memandang mataku, dalam. Begitupun aku. Tidak ada yang terucap diantara kami. Tapi aku tahu, dia mengerti.
Mendadak Jes tersenyum, dan mendung itu seketika hilang. Aku pun tersenyum. Jes menabrak memelukku. Ugh. Aku hampir jatuh. Ia memelukku erat sekali. Kubelai kepalanya. Jes membenamkan kepalanya dileherku.
Mendadak ia berkata, ”Granny, kamu bau pie apel.”
Aku tertawa.
”Kamu tidak suka Jes?”
”Suka! Aku suka sekali bau Granny.”
”Bau pie apel?”
”Bukan, bukan cuma itu. Bau sabun mawar yang Granny pakai. Bau deterjen dan juga bau matahari dari baju Granny. Semuanya. Bau Granny. Aku suka sekali.”
Aku tersenyum dan memeluknya lebih erat.
”I love you Jes.”
”I love you too Granny.”
Siang itu, akan menjadi siang yang akan selalu dia ingat, aku tahu. Karena aku pun memilikinya. Satu siang dalam hidupku. Cukup satu.
***
”Isolde?”
”Ya, Mam?”
”Pergilah ke pasar sebentar dan belilah telur. Papamu akan kedatangan teman untuk makan siang dan kita kehabisan telur. Disaat seperti ini. Tolong, Nak.”
”Iya Mam.”
Aku segera mengiyakan dan berlari keluar. Kemarin hujan turun seharian dan aku terkurung di rumah. Tersiksa sekali rasanya. Aku ingin berlari dijalan. Ingin mencium bau tanah sehabis hujan. Wanginya segar sekali.
Aku berlari sekuat tenaga. Lega sekali. Senang sekali. Aku ingin berteriak. Tapi kupikir aku malu. Belum lagi kadang Mike bisa muncul entah dari mana dan menertawakanku. Aku tertawa geli mengingatnya. Akhirnya aku berlari sambil tertawa keras. Hampir sama seperti berteriak, tapi lebih asik. Karena perasaanku jadi jauh lebih gembira. Ini menyenangkan. Aku terus berlari sambil, lama-lama, hanya tersenyum. Karena mendadak tidak terasa terlalu lucu lagi. Tapi tetap membahagiakan.
Senyum, hanya itu yang kubutuhkan untuk menjadi bahagia.
Pagi itu cuaca benar-benar cerah. Itu adalah hari dimana kau akan selalu mengingat betapa indahnya cuaca. Tampaknya hujan semalam sudah membersihkan seluruh alam. Langit berwarna biru muda, bersih. Oh, dan tentu saja ada sedikit awan disana sini. Awan dengan bentuk-bentuk indah, yang selalu membuatku ingin berhenti berjalan, berbaring di rerumputan lalu memandangnya. Mengkhayalkan bentuk-bentuk apa yang tercipta dari awan-awan itu.
Jadi, aku berhenti. Menepi dari jalan, lalu duduk direrumputan.
Matahari menyapaku hangat. Lama-lama akan sedikit terik, aku tahu. Tapi itu tidak mengapa. Aku suka merasakan hangatnya matahari di kulitku. Itu membuatku..merasa seperti..hidup.
Kuhirup dalam-dalam udara. Angin berhembus pelan, menerbangkan rambutku membuatnya berantakan. Aku tersenyum. Dan menarik nafas lebih panjang lagi. Segar sekali.
Angin berubah arah, dan kali ini ada bau lain yang terbawa. Bau gandum yang baru dipotong Pa. Bau makanan ternak. Bau pie apel buatan Mam, yang terbawa angin dari jendela dapur. Bahkan aku tahu dengan bumbu apa saja Mam membuatnya. Itu semua tercium di udara. Bau rumahku. Bau milikku.
Tanpa sadar, aku tertidur. Terlena oleh nyamannya semua hal ini. Dan seingatku, aku memang kurang tidur. Tadi malam, dalam derasnya hujan dan suara petir yang mengerikan, Betsi melahirkan, dan membuat semua orang sibuk. Pa dan Mike tentu saja. Dan beberapa orang dari kota. Mam sibuk membuat minum dan makanan untuk semua orang. Aku, aku duduk dipojok tempat tidurku dan berdoa, untuk Betsi. Dia sapi yang baik. Aku masih ingin bermain dengannya. Dan kali ini, ada anaknya. Pasti akan lebih menyenangkan.
”Isolde! Isolde!”
Tahu-tahu sebuah tangan memegang tanganku. Lalu wajah. Dan memelukku. Bau pie apel. Itu Mam. Ia mencariku. Aku membuka mataku. Uh, silau sekali. Ternyata Mam sudah berlutut didepanku.
”Bagaimana kau bisa menemukanku Mam?”
Mam tertawa. Sebentar. Tetapi lalu terhenti dan wajahnya menjadi serius.
”Isolde. Mana telurnya?”
Aku terdiam, agak ketakutan.
”Aku tertidur Mam.”
Sepertinya mam berusaha marah. Atau tidak? Waktu itu aku belum bisa menerka bagaimana perasaan orang dewasa sebenarnya. Mereka sering berpura-pura.
Untunglah, Mam tersenyum. Aku tahu senyum itu. Aku aman bersama senyum itu. Langsung kupeluk Mam.
”Maaf Mam, aku tertidur. Tapi langit begitu indah. Dan awannya. Aku harus tahu awan itu berbentuk apa saja.”
”Iya sayang, tidak apa. Untunglah Brit datang dan membawakanku telur. Kalau tidak, tidak ada senyum untukmu hari ini, Isolde.”
Aku ketakutan. Tidak ada senyum??
”Mam, kamu marah?”
”Tadi, tapi sekarang tidak lagi.” Kata Mam sambil tersenyum.
Aku memeluknya lebih erat.
”I love you Mam.”
”I love you too, Isolde.”
Bau pie apel. Bau gandum yang dipotong. Bau matahari siang itu. Juga hangatnya pelukan Mam, menjadi hal yang akan selalu kurindukan. Waktu itu, aku berjanji, aku akan selalu seperti Mam. Memberikan perasaan hangat ini pada orang-orang yang kusayangi.
Siang itu, adalah siang yang akan kamu ingat selamanya.
-End of story-
Paviliun dr Sukaman, 14 januari 2008 4:24 AM
I love you
By Swahesti PR