Do You Got One Too?

Life No Comments »

”Brak!”

Terdengar gelegar pintu depan terbanting tertutup.

Lalu suara langkah kaki kecil berlari menaiki tangga dengan cepat.

Aku bangkit dari duduk. Jesse sudah pulang. Dan mungkin ia mengalami hari yang buruk. Kuhentikan kegiatanku lalu naik ke atas.

Aku mengetuk pintunya.

”Jes, boleh Granny masuk?”

Tidak ada jawaban dari dalam.

Kubuka pintunya pelan. Lalu melangkah masuk.

Dan disanalah ia, cucuku tersayang, tidur tertelungkup di atas tempat tidur. Masih dengan ransel dipunggung. Tangannya pun masih memegang tali botol minum. Botol minum bergambar Spiderman. Yang ia dulu merengek meminta. Mengancam tidak mau berangkat sekolah jika masih memakai botol minum lamanya.

Ku duduk di tepi tempat tidur dan mengelus kepala Jes.

Aku diam saja.

Jes juga. Walau aku tahu, dia menangis sebelumnya. Isakannya masih ada, lamat-lamat. Punggungnya masih tersengal-sengal seperti nafasnya.

Aku terus membelai rambutnya. Lama.

Lama-lama nafasnya mulai teratur. Kupikir Jes sudah tertidur ketika tiba-tiba ia berbalik dan duduk. Dilemparkannya botol minum Spiderman. Juga ranselnya. Wajah Jes sedih sekali. Aku tidak tega melihat malaikat kecilku sesedih ini. Air matanya masih bergulir, memperlihatkan bekas memanjang dipipi mungilnya yang halus. Satu tetes. Dan disusul tetes yang berikut. Kuhapus air matanya yang baru turun.

Dia memandang mataku, dalam. Begitupun aku. Tidak ada yang terucap diantara kami. Tapi aku tahu, dia mengerti.

Mendadak Jes tersenyum, dan mendung itu seketika hilang. Aku pun tersenyum. Jes menabrak memelukku. Ugh. Aku hampir jatuh. Ia memelukku erat sekali. Kubelai kepalanya. Jes membenamkan kepalanya dileherku.

Mendadak ia berkata, ”Granny, kamu bau pie apel.”

Aku tertawa.

”Kamu tidak suka Jes?”

”Suka! Aku suka sekali bau Granny.”

”Bau pie apel?”

”Bukan, bukan cuma itu. Bau sabun mawar yang Granny pakai. Bau deterjen dan juga bau matahari dari baju Granny. Semuanya. Bau Granny. Aku suka sekali.”

Aku tersenyum dan memeluknya lebih erat.

”I love you Jes.”

”I love you too Granny.”

Siang itu, akan menjadi siang yang akan selalu dia ingat, aku tahu. Karena aku pun memilikinya. Satu siang dalam hidupku. Cukup satu.

***

”Isolde?”

”Ya, Mam?”

”Pergilah ke pasar sebentar dan belilah telur. Papamu akan kedatangan teman untuk makan siang dan kita kehabisan telur. Disaat seperti ini. Tolong, Nak.”

”Iya Mam.”

Aku segera mengiyakan dan berlari keluar. Kemarin hujan turun seharian dan aku terkurung di rumah. Tersiksa sekali rasanya. Aku ingin berlari dijalan. Ingin mencium bau tanah sehabis hujan. Wanginya segar sekali.

Aku berlari sekuat tenaga. Lega sekali. Senang sekali. Aku ingin berteriak. Tapi kupikir aku malu. Belum lagi kadang Mike bisa muncul entah dari mana dan menertawakanku. Aku tertawa geli mengingatnya. Akhirnya aku berlari sambil tertawa keras. Hampir sama seperti berteriak, tapi lebih asik. Karena perasaanku jadi jauh lebih gembira. Ini menyenangkan. Aku terus berlari sambil, lama-lama, hanya tersenyum. Karena mendadak tidak terasa terlalu lucu lagi. Tapi tetap membahagiakan.

Senyum, hanya itu yang kubutuhkan untuk menjadi bahagia.

Pagi itu cuaca benar-benar cerah. Itu adalah hari dimana kau akan selalu mengingat betapa indahnya cuaca. Tampaknya hujan semalam sudah membersihkan seluruh alam. Langit berwarna biru muda, bersih. Oh, dan tentu saja ada sedikit awan disana sini. Awan dengan bentuk-bentuk indah, yang selalu membuatku ingin berhenti berjalan, berbaring di rerumputan lalu memandangnya. Mengkhayalkan bentuk-bentuk apa yang tercipta dari awan-awan itu.

Jadi, aku berhenti. Menepi dari jalan, lalu duduk direrumputan.

Matahari menyapaku hangat. Lama-lama akan sedikit terik, aku tahu. Tapi itu tidak mengapa. Aku suka merasakan hangatnya matahari di kulitku. Itu membuatku..merasa seperti..hidup.

Kuhirup dalam-dalam udara. Angin berhembus pelan, menerbangkan rambutku membuatnya berantakan. Aku tersenyum. Dan menarik nafas lebih panjang lagi. Segar sekali.

Angin berubah arah, dan kali ini ada bau lain yang terbawa. Bau gandum yang baru dipotong Pa. Bau makanan ternak. Bau pie apel buatan Mam, yang terbawa angin dari jendela dapur. Bahkan aku tahu dengan bumbu apa saja Mam membuatnya. Itu semua tercium di udara. Bau rumahku. Bau milikku.

Tanpa sadar, aku tertidur. Terlena oleh nyamannya semua hal ini. Dan seingatku, aku memang kurang tidur. Tadi malam, dalam derasnya hujan dan suara petir yang mengerikan, Betsi melahirkan, dan membuat semua orang sibuk. Pa dan Mike tentu saja. Dan beberapa orang dari kota. Mam sibuk membuat minum dan makanan untuk semua orang. Aku, aku duduk dipojok tempat tidurku dan berdoa, untuk Betsi. Dia sapi yang baik. Aku masih ingin bermain dengannya. Dan kali ini, ada anaknya. Pasti akan lebih menyenangkan.

”Isolde! Isolde!”

Tahu-tahu sebuah tangan memegang tanganku. Lalu wajah. Dan memelukku. Bau pie apel. Itu Mam. Ia mencariku. Aku membuka mataku. Uh, silau sekali. Ternyata Mam sudah berlutut didepanku.

”Bagaimana kau bisa menemukanku Mam?”

Mam tertawa. Sebentar. Tetapi lalu terhenti dan wajahnya menjadi serius.

”Isolde. Mana telurnya?”

Aku terdiam, agak ketakutan.

”Aku tertidur Mam.”

Sepertinya mam berusaha marah. Atau tidak? Waktu itu aku belum bisa menerka bagaimana perasaan orang dewasa sebenarnya. Mereka sering berpura-pura.

Untunglah, Mam tersenyum. Aku tahu senyum itu. Aku aman bersama senyum itu. Langsung kupeluk Mam.

”Maaf Mam, aku tertidur. Tapi langit begitu indah. Dan awannya. Aku harus tahu awan itu berbentuk apa saja.”

”Iya sayang, tidak apa. Untunglah Brit datang dan membawakanku telur. Kalau tidak, tidak ada senyum untukmu hari ini, Isolde.”

Aku ketakutan. Tidak ada senyum??

”Mam, kamu marah?”

”Tadi, tapi sekarang tidak lagi.” Kata Mam sambil tersenyum.

Aku memeluknya lebih erat.
”I love you Mam.”

”I love you too, Isolde.”

Bau pie apel. Bau gandum yang dipotong. Bau matahari siang itu. Juga hangatnya pelukan Mam, menjadi hal yang akan selalu kurindukan. Waktu itu, aku berjanji, aku akan selalu seperti Mam. Memberikan perasaan hangat ini pada orang-orang yang kusayangi.

Siang itu, adalah siang yang akan kamu ingat selamanya.

-End of story-

Paviliun dr Sukaman, 14 januari 2008 4:24 AM

I love you

By Swahesti PR

Tips menjenguk orang di rumah sakit

Inter-human No Comments »

Tips kala menjenguk orang sakit di rumah sakit

Tips ini sangat valid karena didasarkan pada pengamatan lapangan, survey kuantitatif maupun kuantitatif gw lagi ngomong apa sih ini. Ya, gitu deh pokoknya. Back to the topic.

Lo mau jenguk orang di rumah sakit? Bingung mo bawain apa? Ato bingung mo bersikap bagaimana? Read this post carefully, laksanakan, & u’ll b wonderful (dirumah sakit).

Poin 1: Who.

Siapa yang dijenguk?

Termasuk orang dekat sama lo, lanjut ke poin tilu.

Kalau jauh, misal lo di Merak yang sakit di Ostrali, ya berarti lo salah jalan. Suruh yang sakit ke Merak dululah, gila aja..

Tapi kalau nggak terlalu jauh, misal lo nemenin temen lo nengokin tetangga neneknya yang masih sodara sama ipar adiknya temennya bokap tirinya pembokat ketua RT kampung sebelah, ya berarti lo ngaco. Masih lebih mending lo ke Ostrali kali. Lanjut!

Nah, sekarang kalau orang yang mo dijenguk lo nggak terlalu kenal, langsung baca poin ke dua.

Kalau orang yang lo jenguk sama sekali lo belum kenal & nggak ada hubungannya at all, baca langsung poin empat, CEPAT, jangan buang waktu.

Poin 2: Reasons.

Apa alasan lo mo jenguk si orang ini?

Kalo lo cuma nemenin temen, baik bener lo. Besok temenin gw cari kucing gw yang ilang yuk. Warnanya putih ada blonteng-blonteng item sama oren. Kumisnya tipis, ada 6. 3 dikiri 3 dikanan. Giginya tajem-tajem. Kukunya juga. Oh iya, dia udah nggak perawan. Anaknya 6, lain-lain semua. Binal memang itu kucing. Gw juga sebenernya udah nggak sanggup miara dia. Nggak pernah bisa diomongin. Ini terakhir gw bilang ke dia, tetangga pada mulai ngeluh, jadi, tolong dong behave. Kucing-kucing kampung sebelah sering banget dateng nantangin kucing tuan rumah. Rebutan dia. Ributnya itu loh minta ampun. Ya udah, gw nasehatin itu kucing. Nggak enaklah gw sama tetangga. Eh, malah kabur. Lah, kalo udah gini gimana coba..

Besok lo temenin gw nyari ya. Duh, makasih ya. Lo baik banget deh..

Eh, gw lagi ngomongin apa ya tadi? Lanjut poin tiga ajalah, gw lupa gw mo ngomong apa juga..

Poin 3: What.

Meliputi,

Poin 3a: What to bring

Poin 3b: What to do

Poin 3c: What to say.

Nah, serius nih, disini, lo harus hati-hati. Secara orang yang mo lo jenguk ini deket & mungkin penting bagi (masadepan) lo. Apa yang lo bawa, lo omongin & sikap lo disana bisa jadi bakal ngaruh banget ke masa depan lo. Banget. Makanya, jangan ngaco lo! Kalo orang sakitnya di Jakarta, jangan main ke Ostrali dulu. Nanti aja abis baca posting ini, Ok. Jadi,

Apa yang harus lo bawa: terserah lo.

Yang harus dilakukan: terserah lo.

Apa yang harus lo omongin: ya terserah lo lah. Orang lo-nya yang mo jenguk, masa gw yang harus bawain oleh-oleh. Aneh.

Kucing gw kemana ya…

Emang enak ketipu hehehe ^ ^

PS:

Poin 4: Dealing with anonymous stranger

Kalo lo nggak kenal sama sekali sama ini orang, calon temen bukan, calon sodara bukan, temen lo nggak kenal dia, sodara lo juga nggak kenal sama dia, apalagi tetangga lo, lah ngapain lo mo jenguk dia?

Jangan ngaco. Cukup yang bikin posting ginian aja yang  ngaco. Wokey ;)

Tips menjenguk orang di rumah sakit (yang ini beneran)

Inter-human 4 Comments »

Tips kala menjenguk orang sakit di rumah sakit (yang ini beneran, sumpe!)

Poin 1: Who

Siapakah orang yang mau lo jenguk? Lo harus tau bener. Sodara? Temen? Calon sodara? Calon temen? Calon musuh? Coba dipikir sebentar. Jawab dengan jujur, karena jawaban poin 1 ini akan mempengaruhi semua keputusan lo di poin-poin selanjutnya.

Poin 2: Reasons

Namanya alasan, pasti banyak. Ada yang atas nama kasih sayang, cinta kasih, udang dibalik pintu, lidah kalo ngerasain pake gerakan gimana, bahasa inggrisnya mencium pantat, karena penasaran, karena kewajiban, atau tanpa alasan. Terserah lo deh. Yang penting, lo tau tujuan lo jenguk itu apa. Ok.

Poin 3: yaitu 3W: What went wrong.

Si sakit ini sakit apa? Cari tahu dengan jelas. Jangan sampai salah. Jangan pake asumsi atau pake teori ‘katanya-katanya’. Nggak laku hari gini. Make sure dulu. Biar cespleng. Ok.

Poin 4:What.

Apa. Apa-apanya dong. Ini lirik lagu.

Poin 4a, what to bring.

Nah, sekarang kejujuran anda diuji. Untuk menentukan oleh-oleh terbaik yang sebaiknya anda bawa (fiuh, capek juga bergaya serius), poin 1 sampai 3 harus udah lo jawab dengan pasti & jujur. Aktual, tajam, terpercaya.

Misalnya, yang dijenguk itu termasuk dekat, dan sakitnya karena jantung/diabet/kolesterol/trigliserida tinggi/dst dst, ya jangan bawain roti-roti-an lah. Pasti si sakit ini harus diet. No carbs, no fat. Bahkan agar-agar juga bisa cukup berbahaya loh kalau kita nggak tahu bikinnya pake apa aja. Memang in general si, buah tu paling aman. TAPI, buat yang mo bawa buah, saya saranken, jangan deh beli parcel-parcel buah yang sudah jadi gitu. Karena:

  1. kita nggak bisa milih. Banyak kasus bagian bawah buah yang nggak keliatan, ternyata busuk. Kan jadi nggak enak tuh, ngasih orang kok udah busuk. Nggak Ok banget sih bow.

  2. Itu udah diplastik berapa lama? Buah paling fresh pun kalo dah di’klekep’ gitu bisa cepet tumbang juga.

Mendingan, milih buahnya sendiri, trus baru diparcel, on the spot. Semuanya bahagia deh ;).

Ato kalau mau lebih asik lagi, misal kalo lagi pas musim buah tertentu yang pastinya disukai (hampir) semua orang kaya mangga, kelengkeng, beli aja buah itu kiloan. Kasih aja minimal 2 ato 3 kilo, geto, nanti semua pihak bakal bahagia juga.

Dengan catatan, lo harus tau si sakit ini sakit apa. Sesuaikan. Ato kalo dah mentok, waktu lo bawa (misal mangga) terus ternyata si sakit ini nggak boleh mangga, lo becanda aja, bilang sengaja bawain buat yang nunggu, plus ditambahin kata-kata manis nan berkelit misal: biar yang nunggu sehat juga. Nunggu orang sakit itu capek banget juga lho, jangan salah. Makanya stamina harus Ok dst dst. Kalau yang nunggu itu ibu2, dia mungkin bakalan terkesan dengan kebijaksanaan palsu lo, & siapa tau lo jadi dijodohin sama anaknya, geto. Semua bahagia kan jadinya ;)

Jadi, kesimpulan dari poin 4a ini, paling save memang bawa buah. Tapi liat-liat ya.

(kalo ada yang mo ngelawak: kalo bawain duren gimana Hes? Plis deh, gw ga perlu jawab kaaan pertanyaan itu..). Lanjut!

Nah, kalau dah terlanjur bawa sesuatu yang ternyata nggak boleh dicicipi si sakit barang sedikitpun, jangan lupa trik di atas. Keluarkanlah kata2 manis bilang MEMANG SENGAJA buat yang nunggu, untuk mencegah kita jadi salting a.k.a celong. Believe me, it works all the time! ;)

Poin 4b: what to do.

Kalau lagi jenguk gitu, baiknya kita ngapain?

Kalau orangnya dekat-apalagi sangat dekat, ya sok perhatian dikitlah. Deket-deket si sakit, bergaya mo mijit-mijit (ato mijit sekalian lebih disarankan penulis). Tapi ingat, HANYA kalau si sakit orang yang DEKAT sama lo. Pokoknya, beri si sakit perhatian penuh.

Kalau si sakit nggak terlalu deket hubungannya sama lo, ya jangan mendadak lo pijitin bisa ketakutan itu orang. Ntar tambah sakit malah repot. Ok.

Kalau mo aman ya ngobrol aja. Biasanya, atau malah hampir selalu, si sakit atau orang yang nungguin, itu sebenernya pengen didengerin. Pasti. Ya jadi pendengar yang baik aja. Timpali sekali-kali. Pokoknya, beri mereka perhatian sebanyak yang mereka inginkan bow. Jangan malah lo maunya diperhatikan plis deh, behave babe, behave.

Poin 4c: what to say.

Gampang banget lah, Tanya sakitnya kenapa. Harusnya pengobatannya gimana, aduh sedih ya. tapi namanya cobaan ya dijalani saja. Yang tabah ya. InsyaAllah nanti yang terbaik yang akan datang. Iya, nanti saya doakan. Semoga cepat sembuh, maaf ini masih ada acara, mau pamit dulu, sayonara, adios.

Itu yang standar. Tapi, kalau mau jadi penjenguk teladan, ya coba deh pake teori psikologi dikit-dikit. Beri kekuatan pada mereka. Tingkatkan percaya diri & harapan si sakit, jangan dikasihani, nanti malah tambah sakit.

Jangan mau bicarakan tentang penderitaan, kesakitan. Omongin aja tentang harapan. Hal-hal yang positif & menggembirakan. Cheer him/her up. Jangan biarkan mereka berkeluhkesah. Bangkitkan semangat mereka, geto.

Poin 5: A Thank You Message

Makasih ya udah mau baca posting ini. Seperti yang di poin 4c, namanya orang yang lagi nungguin orang sakit, pasti maunya didengerin :D.

Thank You.

Selamat mencoba tips-tips tadi. Mudah-mudahan ada yang bener hehehe :p

Selasa sore-sore yang tenang,

Harapan kita.

Cayoooo!

^ ^

Tanjidor-petasan Vs Humanity

Inter-human 2 Comments »

Pernikahan Betawi: Dentuman petasan, Orkes melayu, tanjidor dan sebagainya Versus Kemanusiaan

Suatu hari, (which is yesterday), karena suatu dan lain hal, gw stay disebuah rumah sakit (nungguin aja, not as a patient) di jalan S.Parman Slipi (bukan, bukan Dharmais, sebelahnya bow). Rumah sakit ini namanya juga mentereng bener. Pusat Jantung Nasional, katanya.

Nah, disuatu hari Sabtu, dari perkampungan disebelah rumah sakit ini terdengar gendingan Jawa cukup keras, dari siang (ato pagi gw ga perhatiin) sampai sore. Malamnya kayanya akhirnya ada wayangan. Waktu itu sih gw masih positif thinking, masih berpikir it’s kinda cute, secara di Jakarta ada suara-suara familiar gending Jawa kaya gitu. Lutunya. Waktu itu gitu gw mikirnya. I have no idea apa yang menghadang di kemudian hari.

Yaitu minggu pagi-nya.

Diawali dengan suara puji-pujian ato apalah namanya. Yang keras banget. Dan maab, tapi nggak enak di kuping. Kayanya yang namanya skill nyanyi belum pernah diperhitungkan. Yang penting: apal, sama kenceng! Itu cukup.

Sekitar jam 7-an, tiba-tiba ada suara petasan (apa sih namanya?) yang kenceng bener, terus-menerus. Belum lagi ada beberapa yang suaranya persis banget bom, sungguh bomba. Malah kalo nggak tau ada hajatan, orang yang denger bisa nyangka ada teroris nge-bom beberapa kali, trus terjadi baku tembak sama aparat. For a while. Ini nggak sebentar loh, saudara-saudara. Nggak selesai-selesai. Berulang kali gw membatin: ah, ni udah selesai nih.

Loh, kok belum?

Ah, abis ini nih.

Hwhat, belum juga?

Fiuh..akhirnya abis juga itu petasan.

HAAA (kaget) malah kaya bom gini.

Habis itu ada tanjidor yang (untunglah) memang cute kok. Sang pengantin ikut jalan bersama rombongan ini. Gw dkk (hi guys! ;)) ngeliat dari lantai 5 ke jalan sebelah sambil merasa lutu (lagi).

Siangnya rasa lutu itu menghilang (lagi) dengan cepat. Karena, rupanya acara hiburan dimulai. Orkes melayu ato apalah namanya. Si orkes ini juga kayanya waktu casting vokalis yang dicari adalah yang memenuhi kriteria iklan di Pos Kota, yang iklannya adalah sebagai berikut:

Dicari vok OM syarat: PD&berani dipanggung,suara kenceng,cempreng,cengkok kurang tak masalah,bisa ngelawak-garing tak masalah.Diutamakan yg punya cambang & cln cutbrei ketat.

Anyway, maka, dari siang sampai maghrib di hari itu terdengarlah suara-suara yang gw-bingung-gimana-harus-jelasinnya-jadi-silahkan-lu-bayangin-sendiri.

Best line dari si abang ini (yang terus-menerus gw denger) adalah:

Barangkali ada yang mau rikues? Silakan aja. Kalo sini mah asik-asik aja..asal ada yang mau tanggungjawab.

Setelah bosan menjual diri & apparently kage ade yang mao beli, ni Abang akhirnye cuma ngulang-ngulang kalimat terakhirnye dia aje deh. Yang kaye begini nih: kalo sini mah asik-asik aja..asal ada yang mau tanggungjawab.

            Sumpah sebenernya gw mau banget Bang, rikues ame elu. Rikues minta lu nutup mulut aja, gitu. Bise kagak?

            Eniwei, secara itu adalah rumah sakit jantung, katanya, pasti semua yang sedang stay disitu orang-orang yang sedang tidak terlalu nyaman dengan diri sendiri kali (atit gitu loh. Sulit kali, mo nyaman?). Ditambah siksaan 2 hari dengan berbagai bentuk unidentify sound gitu. Mana tanggungjawab secara moral & formal pihak rumah sakit terhadap ketenangan & kenyaman fisik & mental pasien? Mana tanggung jawab moral warga sekitar terhadap rumah sakit & seluruh isinya. Hello..rumah sakit gitu loh. Mana tanggung jawab kemanusiaan kita semua? Termasuk gw yang nulis posting macam gini..

Mane, mane?

Bang, rikues, es tehnya atu. Kagak pake teh ya. Es-nya juga jangan kebanyaken. Ah, kalo gw pikir-pikir, terserah elu aja deh Bang.

(not) another new year’s resolution

Life No Comments »

Klise nggak sih, pas tahun baru geneh pasti kata-kata ‘resolusi tahun baru’ bertebaran dimana-mana. Dan tentu saja, termasuk di blog ini. Dulu gw sering sinis kalau baca atau dengar orang yang dengan semangat bercerita tentang resolusi tahun baru-nya. Halah, sok-sok-an lu. Gitu deh gw mikirnya. Dulu.

Sekarang, sudah tobat dunk ;). Ternyata, resolusi tahun baru itu penting banget. Karena, hanya dengan netapin goal dan tujuan-tujuan yang jelas, nyata & terperinci, barulah future itu bisa lebih mudah terealisasikan (katanya :D). Coba bandingin kalau kita cuma pengen-pengen aja tanpa ada keseriusan lebih lanjut. Misal menjabarkan detil goal, langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk realisasi goals tersebut, dst dst.

Cuma, namanya harapan, tujuan hidup, harusnya flexible dunk bo. Bisa di-edit setiap waktu. Dihapus ato tambah, anytime. Nggak perlu nunggu satu januari kali. Anytime, anywhere. If you want sumthing, add aja goal itu ke your wishlist ;)
Kenapa harus tahun baru? Itu cuma satu milestone yang mungkin dianggap (paling) jelas aja, makanya banyak yang bikin resolusi tahun baru ini. Suatu penanda waktu yang jelas. Padahal nggak mesti tahun baru kan. Bisa waktu ulang tahun, malam hari raya, setelah ada event yang bikin tobat :D, atau ga da angin apapun mendadak aja-mak bedunduk-bangun tidur trus lgsng terloncat karena dpt wangsit maybe ;), dst dst.

Jadi, ayo bikin resolusi. Selalu. Nggak perlu nunggu tahun baru. Resolusi tiap hari juga bisa. Biar semangat hidup kita. Ada tantangan asik untuk ditaklukan tiap hari. Tiap pagi. Menyelesaikan resolusi hari ini ;)
Selamat bermimpi guys
& selamat meraihnya juga ya.. ;)
-end of this post-
Pojok kompie,
sore-sore rabu 2 januari,
yang ujan nan dingin ini,
mikirin resolusi minggu ini sambil bermimpi.. makan resoles..i
hmm, pasti yummy..
^ ^


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in