“Hes, kenapa sih cewek sekarang
makin matre?”
Kemaren ada laki-laki yang nanya
gitu, LAGI, ke gw. Perasaan
makin banyak sih yang nanya. Dan karenanya gw jadi makin hot eh panas. Secara
mereka (laki-laki) tentu saja berarti meng-generalisasi kaum perempuan dengan
menanyakan pertanyaan seperti itu. Yang secara nggak langsung ikut menuduh gw
matre. Apalagi dengan konteks matre yang berkonotasi tukang morotin
(laki-laki).
Akhirnya gw nulis posting ini. Untuk menghajar merek eh ups
maksud gw untuk mengemukakan pendapat gw secara fair tentang masalah ini. Geto.
Coba deh lo baca postingan ini & see if you’re with me, atau you’re not
(sambil mengayunkan kapak..). Hehe. Kidding!
Pertanyaan ini pastinya udah sering lo hadapin juga. Entah
lo sebagai pihak penanya (hiyyya..rasakan pukulan kapak maut ini) :D, atau lo
sebagai pihak yang ditanya (makanya kalo matre jangan KENTARA banget dong,
bikin malu nama perempuan ajah!), atau lo sebagai pihak lain, figuran ajah
geto, yang cuma disuruh lewat scene biar terasa lebih hidup. Hihihi :p.
Anyway, yuks kita bahas dua poin penting banget berkaitan
dengan ke-matre-an ini.
Satu.
Cewek, matre? Heloow…plis deh, laki-laki JUGA bisa matre.
Banyak malah, yang matre. Ini jelas. Nggak perlu dibahas lebih lanjut, nggak
penting :p.
Dua.
Sudah dari sananya, SEMUA ORANG itu MATRE, you know. Cuma,
matre ini gw artiin as ‘mencari rasa aman’ atau settle. Mapan. Nyaman.
Semua manusia PASTI akan bergerak menuju rasa aman-mapan-nyaman. Mereka butuh
rasa aman ini (masih inget piramida kebutuhan Maslow?).
Dulu jaman fosil-fosil homo ini
homo itu masih hidup, mungkin rasa aman itu adalah rasa aman dari serangan
hewan buas, dari cuaca panas/dingin, dari kelaparan. Jadi, rasa aman buat
manusia-manusia jaman dulu itu mungkin gua, perlindungan, dan ketersediaan
makanan.
Jaman makin maju. Waktu jaman Yunani kuno, mungkin di Athena

Greek's Philosopher
kebutuhan utama mereka adalah untuk berkarya. Berpikir. Berkesenian. Sedang di Sparta, tujuan hidup yang ingin mereka tuju justru menjadi yang ter-perkasa. Beda.

Nah, berarti, rasa ‘aman’ itu
bukan cuma materi. Yang dibutuhkan seseorang itu NGGAK CUMA materi. Liat lagi deh piramida kebutuhan
Maslow. Kebutuhan manusia itu macam-macam. Yang dicari orang itu macem-macem.
Bisa memang materi, bisa juga perhatian, bisa kasih sayang, cinta, pengakuan,
aktualisasi diri, kepuasan spiritual dan entah apa lagi.
Cuma, memang harus diliat. Kalau seseorang itu memang sedang
berada di level piramida yang butuh kebutuhan fisik, ya pastilah ia matre. Ia
harus matre. Karena itulah nature-nya. Yang harus ia penuhi dulu.
Dengan pengertian ini, kalo ditulis ulang lagi poin dua
tadi, akan menjadi gini: semua orang sudah pasti, secara alamiah akan selalu
berusaha memenuhi kebutuhannya.
Nah, cewek-dan cowok yang disebut ‘matre’ ini, berarti
mereka memang sedang dalam level kebutuhan materi. Titik. Nggak ada penjelasan
lain. Nggak ada yang salah. Mungkin lo aja yang salah, karena merasa
di-matre-in cewek lo. Orang emang kebutuhannya materi, masak lo mengharapkan
dia berkebutuhan spiritual aja. Ya nggak bisa kalii. Coba aja bayangin kalo ini
yang terjadi sama lo, emang bisa? Butuhnya ini ditawarinnya itu. Ya nggak
nyambung bow.
Ibaratnya gw lagi pengen makan mendoan tapi dikasihnya
ayam-paha-atas-yang-crispy-atau-original recipe, ya gw nggak mau-lah. Dan
sebaliknya, kalo gw lagi ngidam ayam-paha-atas-yang-crispy-atau-original
recipe-ini, malah dipaksanya makan mendoan. Ya gw marah-marah-lah. Where’s my
fried chicken?!! (sambil menggebrak meja). Eh ups, malah keterusan. Ehm..maaf
saya tadi sedikit khilaf, terbawa perasaan..(seraya duduk kembali sambil merapikan
rok. Berusaha sopan ceritanya..).
Kembali ke topik guys, mungkin gini, kalo lo merasa nggak
cocok sama orang yang ‘berkebutuhan materi’, ya carilah orang yang memang sudah
tidak berkebutuhan itu. Se-simpel itu, lagi.
“Terus Hes, jadi, sebenarnya masih ada nggak sih, orang yang
berprinsip ‘sepiring berdua’ hari gini?”
Ada kali. Yang tidak
berkebutuhan materi. Butuhnya
laen. Seperti yang ada di-piramid-nya Maslow. Entah itu mungkin yang pengennya
aktualisasi diri, butuhnya kebutuhan spiritual, kasih sayang dan seterusnya.
You just have to met the right person. Yaitu yang
kebutuhannya bisa lo penuhin dengan apa yang lo punya. Apapun itu. Sekali lagi,
nggak cuma materi loh bow. Kasih sayang, perlindungan, dukungan, et cetera.
“Kalo nggak kunjung ketemu
gimana dong Hes?”
Yaa…lo-nya juga kali, yang harus evaluasi
;). Jangan-jangan, lo-nya yang nuntut mulu butuh ini butuh itu nggak liat
kebutuhannya dia :D.
“Lah, kalo cinta letaknya dimana dong berarti? Cinta,
sayang, cinta buta, dan seterusnya?”
Menurut lo sendiri, dimana?
Kalo menurut gw sih, cinta-nya seberapa dulu? Kalau
cinta-nya ukuran medium atau small, nggak large apalagi extra large, ya nggak
mungkin itu impian dangdut sepiring berdua terwujud. No way. Nonsense.
Kalau cintanya cuma small, ditambah kebutuhannya saat itu
ternyata nggak bisa terpenuhi sesuai harapan, ya sudah bye bye baby..
Sekarang kalau yang terjadi
sebaliknya guys. Bayangin
aja, cinta small tapi kebutuhan saat ini terpenuhi banget. Basic ‘need’nya. Si
manusia ini begitu pandai mensuplai kebutuhan (yang katanya)soulmate-nya.
Bahkan ketika kebutuhannya berubah, nggak melulu di level piramida itu terus.
Kebutuhan materi, check. Kebutuhan kasih sayang, bungkusss. Kebutuhan rasa
aman, beres. Dan seterusnya dan seterusnya sampai langit ;). Ya gimana nggak
long lasting cinta yang small itu. Walau sedikit tapi mantappp bow ;).
Nah, kalau cinta-nya EXTRA large, menurut gw sih, harusnya,
seharusnya siii, teorinya :D, apapun nggak akan mengubahnya. Walau kebutuhan
nggak terpenuhi, tapi namanya cinta mati, cinta buta, cinta gorila (cinta yang
lebih besar dari cinta monyet), dan jenis cinta-cinta yang lain, ya nggak
papalah. Lha wong namanya juga lagi jatuh cinta. Iya nggak ;).
Jadi, kalau pacar lo ninggalin lo karena dia milih seseorang
yang lebih kaya, simply, itu berarti:
- Kebutuhannya masih di materi.
- Untuk mempertahankan dia, ya penuhilah kebutuhannya bow. Yaitu, materi.
- Kalau lo bisa, dia akan tetap lengket kayak setip yang nempel kelamaan dipenggaris.
- Kalau lo nggak bisa, cari yang lain-lah. Yang lo bisa penuhi kebutuhannya.
Berhenti meratap dan mengutuk ke’matre’an itu sendiri. Lanjutkan hidup,
dengan seseorang yang lebih baik.
- Karena, lepas dari masalah ke-matre-an ini, ada satu masalah mendasar yang, mau nggak mau, lo harus mau akui. Yaitu, kalau lo nggak bisa memenuhi kebutuhannya dan dia ninggalin lo, simply, berarti dia nggak segitu cinta sama lo. Titik.
Matre-nggak matre, who care. Siapa tau, bahkan mungkin
sebenarnya, bukan itu sama sekali masalahnya. Masalahnya, adalah takarannya.
Takaran cintanya. Extra small-small-medium-large-extra large. Lo
kira-kira aja sendiri…
Sekian. Maaf atas berita ini
teman, kebenaran memang (kadang) menyakitkan.
Purwokerto 15 Mei 2008,
(sambil bergaya dangdut makan sepiring berdua. Tapi,
piringnya yang extra large, tentu saja
hoho)