Apa Kata Om Maslow
Science July 4th, 2008Abraham Maslow, tahun 50an membuat
sebuah piramida kebutuhan. Ada 5 level. Menurutnya, manusia punya
kebutuhan masing-masing yang harus dipenuhi sesuai urutannya.
Level terbawah itu kebutuhan fisik.
Kaya makanan, tempat tinggal, dan lainnya(baca:uang). Jika hal ini sudah
terpenuhi, otomatis kebutuhannya akan meningkat ke level selanjutnya, level
atasnya. Sekarang yang ia butuhkan adalah kebutuhan akan rasa aman, dan begitu
terus sampai kebutuhan akan aktualisasi diri. Gambarnya
kurang lebih gini deh.
Wow. Keren juga
ya si Om. Bisa ngerumusin kayak gini. Eh, wait, tapi ternyata banyak juga protes yang muncul. Karena, misalnya, orang
nggak melulu butuh uang dulu. Ada banyak seniman yang butuh aktualisasi diri,
bahkan walau ia masih kekurangan di kebutuhan level pertama, fisik. Ia nggak
peduli. Yang penting aktualisasi diri dulu, uang belakangan.
Memang terbukti
juga sih, bahwa semangat kayak gitu cukup manjur. Meyakini diri sendiri.
Melakukan apa yang diingini, trully. Uang akan datang dengan sendirinya kok.
Banyak lho
kisah sukses orang yang merintis jalannya sendiri, yang sangat terjal. Ia nggak
milih jalan mudah, karena itu bukan yang ia inginkan. Ia melakukan apa yang ia
yakini, walau jalan itu 90 derajat sekalipun.
Dan seringkali,
memang itu membuahkan hasil. Ia akan mendapatkan yang ia mau. Aktualisasi
dirinya. Lalu dengan
sendirinya penghargaan akan datang. Beken, laris, kaya, and so on, you know lah
semua bling-bling itu.
Protes lain untuk piramida Maslow
adalah pemikiran gini: kalau orang sudah mencapai aktualisasi diri, and then
what? What next, Om Maslow? Berarti kan dia sudah nggak butuh apa-apa lagi.
Terus gimana dong, masa tinggal mati-nya aja? Ya nggak kaliii.
Mungkin lalu si Om pun berpikir.
“Iya, ya.
Contohnya gw. Gw kebutuhan fisik udah, rasa aman sip, kasih sayang melimpah
ruah, percaya diri-gw banget tuh, gw juga udah aktualisasi diri-secara piramida
kebutuhan gw jadi hits dimana-mana gitu loh. Tapi gw masih butuh sesuatu tuh.
Gw butuh koleksi lukisan. Gw butuh berdialog dengan Tuhan. Gw masih butuh banyak hal, ternyata! O
my God, gw harus edit ini piramida..“
JREENG…maka direvisi-lah piramida
itu, di tahun 70-an. Om Maslow menambahkan 3 level ke piramida-nya itu. Gambar
piramida versi revisi kira-kira begini.
Ya sud guys, gw cuma mo nulis
tentang piramida si Om ini aja. Topik ini biasanya sering dibahas kalau lagi ngomongin soal
pengembangan diri, kepribadian, yah, pokoknya hal-hal gitu deh ;). Besok-besok
kalau ternyata lo butuh, baca lagi posting ini ya. Semoga bermanfaat :).
Disini, tanggal ini.
(sambil beraktualisasi diri-yang akan menumbuhkan percaya
diri-sambil belajar sehingga kebutuhan akan pengetahuan tercapai. Yang lalu
jadi tambah merasa kecil dan ingat pada Sang Pencipta=kebutuhan transeden dan
seterusnya dan seterusnya. Wow Om Maslow, gimana ni, kok semua kebutuhan bisa
dibolak-balik???) ^ ^.
July 4th, 2008 at 8:25 am
Ini kok font-nya nggak kompak Tante? Iya ni, ah dah malem ngantuk males mo ngedit lagi zz.. :p
July 25th, 2008 at 8:55 pm
Sebenarnya ada perdebatan kita berdua tentang hierarki yang paling atas yaitu transendence..tapi yang menjadi background tulisan ini sebenarnya bukan itu tetapi adalah Mengapa kita menjadi makhluk yang rakus nan egois..kita menginginkan semuanya tetapi tidak mau menikmati proses..mendadak kita menjadi makhluk-makhluk yang super egois yang terbiasa mendapat sesuatunya dalam waktu yang cepat….this era really corrupts our mind..
Materiil yang melimpah ruah seakan menjadi kunci terbukanya kita kepada manifesto manusia yang paling luhurnya yaitu memberi..Menurut saya pribadi manusia akan menemukan arti dirinya sebagai manusia setelah dia berfungsi seutuhnya sesuai dengan sifat asali yang dimilikinya.
Penemuan diri atau konsistensi identitas dalam bahasanya yang sophisticated harus melewati proses-proses kejiwaan yang tidak bisa kita raih hanya dalam waktu sekejap seperti novel atau menonton kisah film..Its all about entertainment yang menyesatkan..(huuuu…)
Trus about transendence itu tadi akhirnya hasil perenungan kamar mandi pribadi saya sendiri mengacu kepada pengejawantahan diri kita kepada Tuhan..mengabdi kebenaran mengabdi kepada sifat sifat Tuhan..melayaninya..dengan sepenuh hati.
Kebutuhan Maslow akan menjadi tidak runut kalau kita memulainya tidak dari pemenuhan kebutuhan fisik tetapi perjalanan kita mencapai Tuhan(perjalanan jiwa).
Jangan ragu kalau kebutuhan Maslow akan teracak acak karena disitu ada nilai yang banyak dilupakan kita yaitu sacrifice atau pengorbanan..
Dari yang selalu skeptis,
Regards
August 2nd, 2008 at 7:14 pm
Aduh harus mikir dulu. Serangan balasannya lagi nanti dulu ya..